Friday, 1 August 2014

Brandon Boyd

Post ini seharusnya dimuat beberapa bulan lalu, tapi karena kesibukan maka aku ga pernah sempat update :-(
Aku ngefans dengan band Incubus dan kadang mengikuti berita mereka melalui facebook. Suatu hari lihat berita kalau Brandon Boyd akan datang ke Zurich! Untuk sesaat rasanya ga percaya, apa benar Brandon Boyd bakal ke sini? Dari informasi katanya Brandon ga bakal menyanyi, jadi cuma promisikan bukunya, acara bakal diadakan di sebuah klub kecil, Plaza.
 
Dengan rasa penasaran aku cek di website Plaza dan ternyata benar!
Itu adalah acara wawancara dan penandatanganan buku baru Brandon Boyd berjudul "So the Echo". Berhubung bukan acara konser, harga tiket juga sangat terjangkau. Aku girang bukan main, kapan lagi bisa jumpa langsung idolaku?!
Aku langsung kirim link dari website Plaza ke si pacar, ngajakin pergi bareng. Buru-buru aku reserve tanggal itu di kalender. Euphoria.

The venue

Di hari H, aku udah sangat senang duluan. Apalagi mikir bakal bisa dapat tanda tangan langsung dari Brandon Boyd. Super norak.
Acara diselenggarakan malam hari sekitar jam 8 malam. Sepulang kerja kami berdua makan malam ga jauh dari kantor. Untungnya venue juga ga jauh dari kantorku. Praktis.
Sejumlah pengunjung udah mengantri di depan Plaza. Untungnya kami ga telat kalau nggak bisa ga dapat tempat duduk. Itu aja udah sedikit nyesal karena ga bisa dapat tempat paling depan.
Semua demi Brandon.


Short video about Brandon Boyd not only as singer
 
 
Sebelum acara dimulai, pengunjung disuguhi lagu-lagu dari album solo project Brandon Boyd, Sons of the Sea. Kebetulan di pacar senang sekali dengan album ini, dia mengaku lebih senang Sons of the Sea ketimbang Incubus. Kalau aku sih senang dua-duanya :o)

Ga lama ditayangkan video pendek tentang Brandon Boyd, selain berprofesi sebagai vocalist di Incubus dia juga seorang artis yang sangat bertalenta. Aku juga sangat suka gaya Brandon menggambar, khas dengan banyak garis tegas melengkung. Imajinasinya luar biasa!
 

 
Relax interview session

Acara akhirnya dimulai. Seorang moderator memandu acara memanggil Brandon ke dari backstage. Brandon nongol dengan memunculkan sedikit kepalanya, mengintip para penonton. Awal yang kocak.
Sang moderator mengungkapkan kalau tadinya Brandon sempat menyangka yang datang ga bakal banyak. Nyatanya ruangan penuh.
Wawancara berlangsung dengan santai, bisa dilihat kalau dia adalah seorang yang mengalir apa adanya. Bukan tipikal selebriti yang heboh dengan kawalan bodyguard berlapis, walau kualitas vokal dan otaknya jauh di atas para selebriti yang super heboh.
Brandon juga seorang yang spritual. Mohon jangan selalu mengartikan istilah spiritual dengan keagamaan. Sedianya kata spiritual adalah hal yang berhubungan dengan kejiwaan, batin, mental dan juga moral. Aku juga kadang ga mengerti kenapa kebanyakan orang selalu mengartikan spiritual itu berarti keagamaan.
 
Rasanya wawancara berlangsung singkat, beralih ke acara tanya jawab. Si pacar nanya apa aku mau nanya ke Brandon atau nggak? Aku juga ga bisa mikir, terlalu gugup buat mikir sebuah pertanyaan yang ga malu-maluin :D
Selesai bertanya jawab, acara dilanjutkan dengan penandatanganan buku terbaru Brandon Boyd. Aku jelas aja ga mau lewatin kesempatan buat beli buku dan ketemu langsung dengan Brandon. Antrian cukup lama, tapi itu ga menyurutkan niat mulia ini :o)
Inilah detik-detik menjelang penandatanganan buku yang kubeli!








We bought the book!



Akhirnya sampai juga giliran kami!
Brandon menyapa dengan ramah, saya memperkenalkan diri dan si pacar.
 
Aku          : Saya datang jauh dari Indonesia ke sini
Brandon   : Oh ya? *takjub*
Aku          : Iya, tapi udah tinggal di sini tujuh tahun lebih
 
Brandon ketawa lagi. Aku ngomong begitu karena ada beberapa penonton yang bilang mereka datang jauh dari mana mana khusus untuk jumpa Brandon. Aku juga ga mau kalah, lagian kalau tinggal di Indonesia juga pasti agak susah mendapat kesempatan seperti ini.
Si pacar juga ga mau kalah ikutan nanya
 
Pacar        : Apa Sons of the Sea punya rencana buat bikin konser di Zurich?
Brandon   : Pasti ada tapi belum tahu kapan.

Took the moment when Brandon laughed with J

Brandon with us

The signed book!


Sehabis tanda tangan kami langsung bubaran. Si pacar ngajakin minum wine sebentar di bar sebelah klub Plaza. Sambil minum kami membahas wawancara tadi. Kami berdua ga nyangka Brandon juga mengambil waktu buat mengobrol dengan penggemarnya. Sempat kukira bakalan hambar cuma salaman dan tanda tangan doang, ternyata lebih dari itu.


Wine after the show

Happy face :o) 

Senang rasanya punya idola yang pintar seperti Brandon, down to earth pula.
Sudah pasti bakalan nungguin kapan Sons of the Sea dan Incubus manggung di Zurich.
Thank you, Brandon!

Friday, 30 May 2014

MARSEILLE, FRANCE

Masih dalam rangka menepati janji untuk mengulas perjalanan di Perancis walau udah lumayan basi. Mudah-mudahan ga basi buat yang pengen jalan-jalan ke Marseille.

Day 1
Setelah sarapan di di Grand Hotel de Bordeaux sambil disuguhi pemandangan sepasang ABG yang bibirnya -literally- nempel terus selama kami sarapan, akhirnya kaki pun dijejakkan di kota Marseille. Kota Marseille adalah kota terbesar kedua setelah Paris dan merupakan kota pelabuhan.
Kami tiba di Marseille sore hari, langit sedikit mendung dan sedikit kaget karena kota ini pastinya lebih ramai dan bising daripada Bordeaux. Baru keluar stasiun kereta udah ada orang jejeritan histeris. Jangan tanya kenapa.



Berhubung ga sempat riset restoran setempat, kami memutuskan untuk makan malam di salah satu restoran ga jauh dari hotel di sepanjang jalan di dekat dermaga. Suasana agak lengang dan har itu banyak toko dan restoran yang tutup.
Hidangan di restoran itu biasa aja, cuma salah satu pelayan restoran terlihat sangat penasaran karena aku sibuk memotret. Berbekal broken English dan keberanian lebih besar daripada gunung Uhud, dia nanya: Kok Anda memotret semua hidangan?
Aku cuma senyum sambil nyahut: Karena memang gemar aja.
Dia salah tingkah antara masih mau nanya tapi bingung mo nanya apaan. Akhirnya dia ngeloyor sesudah menganggukkan kepala. Masih sambil senyum aku lanjut motret lagi. Si pelayan mungkin belum pernah ketemu turis dari Asia.

Hotel yang kami tempati di Marseille ga bisa dibandingkan dengan hotel di Bordeaux. Bahkan jika pihak hotel up grade kamar, ga bakalan bisa disamakan :D Tapi berhubung ini penawaran yang cukup murah dan hotel juga di tengah kota maka tak apalah.

Day 2
Besoknya petualangan di mulai. Kami sarapan di salah satu coffee house ga terlalu jauh dari hotel. Coffee house ini bernama Noailles. Di sana aku minum teh sambil makan croissant. Makan croissant adalah salah satu hal yang wajib dilakukan bila kamu ke Perancis (selain minum wine, tentunya :D). Croissant di Perancis rasanya benar-benar enak. Kalau biasanya aku ga begitu suka makan croissant yang kubeli di Zurich, tapi di Perancis malah jadi suka.


Kelar sarapan kami langsung mengunjungi salah satu pasar tradisional yang lagi-lagi gak jauh dari hotel. Pasar itu dipenuhi orang (ya iyalah, kalau sepi namanya kuburan). Pasar di Marseille dipenuhi banyak pendatang dari Afrika Utara. Sebenarnya ga banyak yang bisa dilihat di pasar itu, tapi mungkin aku sewaktu itu mendadak kampungan pingin lihat banyak hal. Mungkin saat itu tiba-tiba aku merasa dijangkiti keseruan bertualang.




Selanjutnya kami eksplorasi daerah di dekat situ, juga ga lupa berjalan di pinggiran pelabuhan. Ada juga beberapa nelayan berjualan hasil tangkapan laut di pinggir pelabuhan.


Berbekal riset kilat di internet, kami singgah makan siang di sebuah restoran yang namanya "Brocéliande" atau Paimpont Forest, tempat yang dulunya diyakini sebagai hutan yang penuh misteri dan keajaiban. Tempat ini adalah sebuah crêperie alias menjual crêpe dan galette. Belum sah rasanya kalo ga nyobain crêpe atau/dan galette di Perancis. Si pacar nyobain seafood salad yang enak sambil minum cider.


Selain nyari di internet dan nanya penduduk asal, si pacar juga sempat nanya salah satu temannya soal referensi restoran khas Marseille. Teman si pacar nyebutin nama satu restoran: Miramar.



Dengan harapan besar dan perut lapar kami jalan ke Miramar buat makan malam yang letaknya dekat dari hotel. Berhubung udah pesan tempat jadi ga perlu buru-buru datang ke sana. Di ambang pintu masuk kami 'dicegat' dua orang pegawai restoran. Bukan, mereka bukan pelayan. Mm lebih tepat mungkin sebagai seksi humas restoran. Yang satu lelaki yang hampir bisa disebut gemulai. Satu lagi perempuan yang entah kenapa kalau memandang selalu membesarkan mata duluan. Mungkin dia kira kami sebagai kru sinetron, jadi belum apa-apa bawaannya mau akting jadi pemeran antagonis.

Note
PA: pemeran antagonis, A: aku, J: si pacar

PA: *besarin kedua mata* Selamat malam, Anda sudah pesan tempat?
J: Ya, kami tadi sudah pesan tempat. *pacar nyebutin namanya*
Bukannya dengarin si pacar, dia mulai mandangin kami berdua. Mungkin menilik apa benar kami berdua ini kru sineron atau cuma tukang angkat kabel. Sekaligus mungkin menimbang apa kami berdua 'layak tayang' di restoran ini. Setelah mengecek dan membalik lembaran kertas di genggamannya yang membuat dirinya terlihat lebih penting daripada pelayan yang bersliweran, ia senyum pelit dan ngomong.
PA: Silakan, meja Anda di sebelah sana.
A: *ngasah kampak*

Kami diantarin ke meja sementara si lelaki gemulai tadi cuma ngeliat dengan sikap diatur supaya dibilang profesional. Saat itu aku rasanya pengen banget nonjok mereka berdua.
Sok ngetop lo berdua!
Tapi berhubung aku lebih 'cool' daripada mereka, aku cuma ngelirik si pacar sambil senyum. Si pacar udah geleng-geleng kepala. Mata kami bertemu dan ketawa, pertanda udah menyesal duluan pesan tempat di sini.

Kami pesan Bouillabaisse, hidangan ikan tradisional Provence.
Aku yang cuma ngikutin si pacar nyobain makanan ini, kaget karena ternyata hidangannya buanyak banget. Belum lagi kami juga pesan hidangan pembuka dan penutup. Asli perut kenyang!
Satu fakta tentang restoran Miramar, ternyata tempat ini cukup diminati masyarakat di sana. Soal makanan aku ga bisa bilang banyak, habisnya cuma makan sekali di sana dan makanan khas situ pula, jadi ga bisa menilai.
Yang pasti mau makanannya enak atau nggak, kami berdua udah gondok duluan dengan cara mereka memberikan service. Sok penting banget. Semua pelayannya sombong, jauh lebih sombong daripada pelanggan. Gimana ga mau nabok coba?



Di tengah rasa sebal itu, tiba-tiba muncul dua orang lelaki lalu duduk di meja sebelahku. Beberapa orang berbisik, ngeliatin ke meja itu. Ga lama si pacar ngeliat ke aku dan ngobol dengan gaya sambil lalu.

J: Aku baru ingat sesuatu.
A: Apaan?
J: Lelaki yang duduk di sebelah meja kita ini mantan Menteri Pendidikan Perancis.
A: *pura-pura nyuap makanan dan ga lama meneguk wine* Oh ya?

Mr. Jacques Lang, sang mantan menteri, duduk di sebelahku sambil mengamati buku menu.
Pantas aja semua pelayan bersikap paling penting di dunia, mungkin karena restoran tempat mereka bekerja juga disinggahi orang-orang penting sekelas menteri. Najis lo semua, aku ngupat dalam hati.
Okay, aku akui ga tiap hari aku bisa jumpa menteri. Jumpa menteri di Indonesia aja belum pernah, ga pernah jumpa pegawai negri hebat kayak presiden atau menteri, paling cuma bapak kepala sekolah waktu SMA :D
FYI, selama Mr. Lang makan, pelayan yang melayani mejanya ada tiga orang. Ngerti sih, dia orang penting tapi pihak restoran nyata-nyata bedain service ke pelanggan. Ada yang dicuekin seperti kami, ada yang dilayani lebih ramah dan ada yang melayani pelanggan nyaris hampir sujud.
Saat itu aku berdoa, semoga aku ga bakal balik lagi ke restoran sialan ini. Si pacar ngedumel hal yang sama, plus dia bilang bakal mo bilang ke temannya kalau referensinya ga bagus.

Day 3
Bangun pagi aku udah punya rencana pengen balik ke pasar kemarin. Entah kenapa aku waktu itu ngerasa seperti orang yang ga pernah ngeliat pasar.  
Kemaruk, kata orang Medan.
Jadilah kami berangkat lagi ke pasar dan memutuskan untuk minum teh di kedai teh Maroko. Baru pertama kali aku minum teh tradisional dari Maroko. Rasanya benar-benar bikin ketagihan! Sebenarnya toko itu lebih menjual kue dan manisan khas Afrika Utara, tapi bagiku manisan dari daerah sana terlalu manis. Sementara secangkir teh a la Maroko tadi adalah highlight bagiku.



Destinasi berikut adalah katedral Notre Dame de la Garde.
Untuk menuju katedral ini kami naik bus yang halte busnya ga terlalu jauh dari hotel. Melalui jalan-jalan berkelok mendaki, akhirnya bus sampai juga di tujuan. Turun dari bus, kami disuguhi pemandangan laut biru dihiasi bangunan-bangunan perumahan kota Marseille, beberapa dari bangunan diwarnai graffitti. Tercoreng moreng, tapi juga indah.









Kami ga terlalu lama di dalam katedral, karena jumlah pengunjung banyak banget. Kebanyakan para lanjut usia dari negara tetangga seperti Italia. Terkadang kaum lanjut usia sangat ramah dan lucu, tapi bukan berarti ga bisa nyebelin.
Sewaktu kami lagi menuruni tangga menuju halte bus (sesudah puas mengagumi bangunan katedral dan tentunya berfoto dengan latar belakang langit biru dan lautan), ada seorang nenek dari Italia. Dia lagi ngomong seru abis dengan seorang nenek lain. Ngomong ga berhenti, kecepatan dia ngomong ngalahin kereta TGV. Mereka juga sedang nurunin tangga, berjalan di depan kami sedang si rekan nenek itu mengangguk terus. Entah karena mengerti, mengiyakan atau mengantuk (pilih sendiri). Ga lama ponsel si nenek TGV tadi berdiri. Masih dengan semangat membangun kota Roma, dia ngambil ponsel dan ngucapin salam "Pronto".
Tapi karena heboh cerita dia ga sadar kalo kakinya ga jalan dengan sinkron, badannya oleng dan hampir jatuh terguling dari tangga. Maksud hati mau ngomong "Pronto", yang keluar dari mulut: "Proooouuuunntooooo."
Asli kayak pita kaset rusak. Ga bohong.
Untungnya ada orang yang nolongin dia, si penolong tadi menangkap lengan nenek TGV. Kalau aja ga ditolong mungkin si nenek TGV bakal jatuh guling-guling di tangga.
Lalu apakah yang dia ucapkan ke si penolong?
Ga ada. Nothing. Nada.
Yang ada malah dia ngobrol terus ke si penelepon.
Kami berdua bengong hampir ga percaya dia ga sedikitpun ngucapin terima kasih udah diselamatin nyawanya. Malahan heboh bertelepon. 
*mengelus dada*

Di perjalanan balik ke pusat kota aku ngeliat sebuah jalan yang banyak dihiasi graffitti. Rame banget dan bukan asal coret. Sayangnya ga sempat turun ataupun memotret dari dalam bus. Sampai sekarang aku masih ingat jalan itu, sedikit nyesal ga buruan turun dan berburu graffitti.


Kegiatan berikut adalah makan siang. Restoran "Le Vieux Clocher" jadi tujuan.Aku cuma makan pasta biasa di restoran itu. Hidangan yang sedikit ga biasa mungkin adalah Caramel Tiramisu. Walau aku ga terlalu suka caramel, tiramisu yang kami pesan lumayan enak.


Sehabis makan kami jalan ke daerah tertua di kota Marseille. Selain banyak tanjakan dan banyak tangga, di daerah situ juga ada gipsy meminta-minta.

Buat yang suka ngeliat graffitti, Marseille juga punya banyak graffitti seru. Sayangnya kami ga ada waktu khusus berburu graffitti, jadi cuma bisa motret kalau kebetulan ketemu di jalanan. Perjalanan sehabis makan siang harus dihentikan karena kepalaku pusing. Si pacar ngelanjutin jalan-jalan ga jauh dari hotel, sementara aku baring sebentar di hotel.

Tidur sebentar dan mandi, badanku lebih segar.
Si pacar berencana mau singgah ke "Oogie!" 


Toko ini bukan hanya menjual pakaian dan aksesoris yang tidak mainstream, tapi juga menjual karya musik unik. Si pacar beli sebuah CD yang entah apa judulnya, ga sempat lihat berhubung aku mulai kelaparan.
Di sekitar toko Oogie! banyak terdapat grafitti menarik, sayangnya jalan-jalan kecil tersebut sangat bau. Entah karena banyak anjing piaraan yang buang air sembarangan dan ga terurus sang majikan, atau memang masyarakat sekitar juga ga begitu mengurus jalanan dimana mereka bermukim. Apapun itu, bau begitu menyengat.
Satu hal menarik cuma bisa sedikit berburu graffitti di situ, berbagai macam karya penuh warna sukses bikin aku kagum.






Perjalanan kami lanjutkan buat makan malam, tadinya mau mengunjungi sebuah restoran tapi entah kenapa hari itu malah tutup. Akhirnya kami terdampar di sebuah restoran bernama "Les Arcenaulx". Tempat ini adalah bangunan yang terdiri dari perpustakaan, toko buku, restorant dan toko souvenir. Tadinya sedikit sangsi apakah makanannya enak. Kemudian kami melihat banyak orang yang terlihat tidak seperti turis pada minum di situ. Lebih tepatnya mereka adalah kaum pekerja yang sedang menikmati after work drinks. Sedikit naif memang, tapi saat itu aku mikir, kalau penduduk lokal juga mampir ke situ pastinya makanannya lumayan.

Hipotesaku ternyata terbukti benar!
Malah restoran ini adalah restoran paling terbaik selama perjalanan di Marseille. Mulai dari pelayanan saat kami datang, staff khusus ahli wine juga melayani dan menjelaskan tentang wine yang pas buat hidangan kami. Semua pelayannya sangat ramah! Hidangannya juga semua enak!






Rasanya pengen aja nyuruh semua pegawai restoran Miramar buat training di restoran ini.
Sebagai kenang-kenangan, kami juga beli souvenir di toko mungil sehabis makan malam :-)

Day 4
Hari diawali dengan minum kopi di restoran "Le Bar de la Marine".
Tempat ini katanya juga sebagai salah satu lokasi syuting film Love Actually. Terus terang aku lupa gimana jalan ceritanya. Si pelayan sangat ramah tapi kami datang telat dan mereka sama sekali ga punya croissant. Habis terjual :-(











Kelar sarapan, jalan-jalan kami lanjutkan di sekitar dermaga dan menjajaki bagian lain kota Marseille. Blusukan hingga ke tepi pantai. Ga ada yang berenang karena memang temperatur air masih terlalu dingin. Kami makan siang di salah satu restoran dan bar di dekat pantai bernama "Equinoxe" dengan menu standard. Termasuk mengecewakan, tapi cukup dimaklumi mengingat itu adalah daerah dimana banyak turis.







Perut kami kenyang namun ga terasa nikmat. Sesudahnya kami sempat bermain dengan air sebentar di pantai. Anginnya masih dingin, dan ga tahan berlama-lama di tepi pantai.
Kaki pegal sesudah jalan sedari pagi tadi dan kami balik ke hotel.

Sempat tidur sebentar, sorenya kami mengunjungi toko biskut dan coklat ga jauh dari hotel "La Cure Gourmande". 






Toko ini sangat imut tampilannya, dengan logo seorang anak perempuan berambut dikepang sedang tersenyum serta desain toko bergaya klasik pasti bikin anak-anak dan pecinta biskut serta gulali betah nongkrong sekaligus memborong. Aku cuma beli oleh-oleh sedikit, malah kebanyakan memotret daripada belanja :D
 
Tujuan berikut adalah restoran "Treize en Vue".
Restoran yang ga buka setiap hari ini juga adalah salah satu yang patut dicoba.




Harganya sangat masuk akal tapi dengan kualitas bagus. Sang pemilik sekaligus chef yang memasak untuk kami. Orangnya sangat ramah dan makanannya benar-benar enak!

Day 5
Ga terasa liburan di Marseille berakhir di hari ke-5.
Pagi hari kami sarapan di café dekat dari hotel dan sesudahnya melihat-lihat pasar di dekat deramaga yang menjual hasil laut. Seru melihat hasil tangkapan para nelayan dijual langsung.
Sambil menunggu keberangkatan kereta kami jalan-jalan sebentar, kembali berburu graffitti dan memotret.
Every street is catwalk haha..






Such a huge soap!!!

Sebelum berangkat ke stasiun masih sempat makan siang. Kami kembali ke Le Bar de la Marine, okay memang ga kreatif. Berhubung dekat dari hotel dan ga ribet, makan di sana juga bolehlah. Makanannya ga terlalu hebat, standard lah. Cukup mengganjal perut.
Akhirnya kami harus berangkat. Sempat takut turun di stasiun yang salah. Kami akan naik kereta ke Geneva terus dari Geneva ke Zurich.
Perjalanan ke kota Geneva diselang-selingi oleh hujan. Makin dekat ke Swiss, cuaca makin jelek. Tetes-tetesan air hujan membasahi jendela kereta.
Aku bersenandung kecil dalam hati, memikirkan kemana tujuanku selanjutnya.