Friday, 11 July 2008

100 days

kemarin genap 100 hari Ibuku wafat, perasaanku campur aduk.
kakakku bilang hari ini di rumah Medan ada pengajian, yang diundang tuh rombongan pengajian dimana Ibuku dulu bergabung.
ampe sekarang aku selalu ingat Ibuku itu terkenal sebagai seorang yang aktif berpartisipasi dalam berbagai organisasi. belum lagi dengan karirnya sebagai guru, bikin Beliau selalu dikenal dimana-mana. aku masih ingat ada suatu masa dimana dalam satu minggu Ibuku selalu sibuk beraktifitas. Senin ikut pengajian gabungan, Selasa ikut perkumpulan Dharma Wanita, Rabu ikut PKK, Kamis ikut pengajian mingguan, Jumat juga ikut perwiridan, Sabtu dan Minggu aja yang senggang.

setiap habis halat subuh, Ibuku pasti senam sendirian. Ibuku hobi menyanyi, ini paling sering dilakukannya sewaktu memasak. setelah Ibu wafat, ga ada lagi yang suka nyanyi. 
rumah jadi sepi.
 aku ingat hari saat aku tiba di Medan, malamnya aku ga bisa tidur. karena tidur di kamar Ibuku, aku ga percaya kalau Beliau udah wafat. melihat bajunya masih tergantung di kamar, kacamatanya masih terletak di meja. tas yang biasa dipakai buat mengajar dan mengaji, ... semuanya bikin nafasku sesak.
aku keluar dari kamar, duduk di ruang tv. diam buat beberapa saat. 
waktu itu aku pengen nangis, tapi ga bisa.

beberapa minggu setelah Ibuku meninggal, keponakanku yang umurnya 5 tahun Ilhan nanyain:
"Tante, waktu nenek masih dibaringkan di rumah, kenapa Tante ga ada di sini?"
aku udah hampir nangis, tapi aku berusaha menahan. aku jawab:
"Tante waktu itu sedang di pesawat dari Swiss ke Medan. dari Swiss ke Medan itu jauh, Ilhan. Tante mau ada di Medan dekat nenek, tapi Tante gak bisa..."
Ilhan cuma bisa ngeliatin aku, kami berdua sangat sedih.

sebulan setelah aku balik ke Zurich, aku mimpi Ibuku. aku ga ingat jelas isi mimpinya apa, tapi yang kuingat Ibuku berbaring dan aku mau menutupi badannya supaya ga kedinginan. 
aku: "aku selimuti Ibu ya.."
Ibuku ga ngomong, dia cuma mengangguk dan senyum.
waktu terbangun, nafasku sesak dan air mata udah membanjiri baju dan bantal. 
aku sedih, karena aku belum bisa membuat ibuku bahagia.
sekarang setiap hari senyum itulah yang tetap kuingat. senyum yang sama seperti fotonya di dalam dompetku. aku ga akan pernah bisa melupakan senyum Ibuku itu.
Mom, I really miss you...

No comments :