Monday, 6 August 2012

Just A Phase

kali ini dengan niat penuh dan tekad bulat saya nulis lagi :o)
senang, karena bisa sedikit lebih maju daripada cuma: login, mandangin post terakhir trus logout. akhirnya bisa sedikit lebih aktif lagi nulis. 
walaupun isi dari post kali ini cuma sekedar ringkasan apa yang akhir-akhir ini terjadi di hidup saya.


hari ini saya nyobain resep perkedel daging bumbu paprika kreasi kakak saya. udah pernah sekali masak hidangan ini. si pacar juga suka, perkedel daging buatan saya dimakan tandas :D masaknya sih ga terlalu sulit, cuma buat saya yang amatiran membentuk perkedel daging terasa rada ribet dan lama (baca: males). tapi kalau sedang rajin seperti hari ini, biarpun dua - tiga jam di dapur juga saya jabanin. aslinya sih ga selama ini masaknya, tapi saya maunya nyantai. masak sambil dengarin lagu-lagu Queen sambil nostalgia tentang zaman SD dulu :o)


asik rasanya bisa nyoba resep baru, masak berjam-jam di dapur ditemani musik, pikiran ga sumpek. melenceng dari topik masakan, kalau dipikir-pikir terkadang saya menganggap memasak sebagai stress release. sebagian orang pergi belanja, ada juga yang makan membabi buta. kalau saya lebih suka memasak, walaupun masakan saya bukan kayak Farah Quinn :D 

terkadang ada saat kita merasa kesal dimana beberapa hal tak berjalan sesuai rencana, pertengkaran dengan pasangan juga bikin kita enggan bahkan cuma berpapasan dengannya *nulis berdasarkan pengalaman*. di saat seperti itu saya bakalan lebih suka pergi ke dapur dan masak. sewaktu memasak itu pikiran saya teralihkan untuk menyiapkan bumbu, merajang, menggoreng, menumis, mengaduk sampai akhirnya makanan matang. biasanya saya merasa lebih baik sehabis memasak. alasan lain saya memilih memasak daripada belanja atau berpesta lebih karena masalah keuangan. 
kesimpulan: saya bokek.
kembali ke topik hidangan perkedel daging bumbu paprika. terlepas dari ketidaktahuan bagaimana bentuk masakan aslinya (karena cuma mencatat resep melalui telepon :D), inilah foto masakan saya. 


Perkedel Daging Bumbu Paprika
jangan terkecoh penampilan luar :)


topik lain, akhirnya saya membereskan beberapa link di blog saya. bermodalkan blogwalking di Minggu siang, saya menemukan beberapa blog menarik dan lucu. hal berikutnya yang pengen saya lakukan yaitu ganti skin blog. ini memang rencana jangka panjang, ibaratnya repelita (btw, saya lupa kepanjangan dari repelita). kapan saya bisa ganti skin blog, masih berupa misteri. 
wushhhh *suara angin*.


akhir-akhir ini saya merasa kurang yakin tentang beberapa hal di hidup saya.
setiap individu pasti pernah merasakan fase ini dalam hidup. suatu hal yang tadinya diyakini dengan sangat bahkan melebihi dari agama sendiri, seketika jadi berubah bentuk, bertransformasi bergerak membias hampir menghilang. saya terkadang bertanya-tanya kenapa hal itu bisa terjadi. apa karena kita merasa 'terlalu nyaman' dengan keadaan itu sehingga malah membuat kita merasa 'mencekik diri sendiri'? atau karena di satu sudut hati kita selalu ada kehadiran dari 'rasa takut'? pastinya fase apapun itu, setiap perubahan selalu memberikan kita hadiah berupa 'kondisi spesial'.


tahun 2012 memang banyak memberikan rezeki buat saya dan sudah barang tentu saya selalu syukuri. situasi baru seperti pekerjaan baru menuntut saya untuk lebih banyak belajar dan menggali kemampuan saya. selain itu ada juga yang kurang menyenangkan seperti ketidakpastian dalam sebuah kondisi. well, baik maupun buruk saya masih bisa untuk bersyukur dan berdoa agar hal yang buruk tersebut bisa berubah menjadi baik. banyak kejutan pasti akan selalu mendatangi hidup kita tanpa peduli fase apa yang sedang kita jalani dan tak ada yang bisa kita perbuat selain siap untuk menghadapinya.
I believe, whatever it is...like Incubus says: it's just a phase.



Friday, 3 August 2012

No Way Back

akhir-akhir ini lagi miskin ide, akibatnya jadi jarang nulis.
padahal sih pengennya lebih sering post (heran, alasanku selalu aja terdengar sama dan sejenis). di satu sisi aku lagi malas banget untuk nulis, tapi kalau ga nulis juga kayaknya ada yang kurang.
serba salah. bagai makan buah simalakama. *salah pribahasa deh kayaknya*


duduk di sudut sofa di apartemen sendirian, diiringi suara jejeritan dari tv yang nayangin film 'Snakes on the Plane'. what a pathetic film! lebih menyedihkan lagi, aku milih channel ini karena ga ada program lain yang bisa ditonton. yeah, aku ga nonton sih, tv dinyalakan cuma sekedar untuk suara latar belakang aja :D


well, here we go...
akhirnya, aku tanda tangan kontrak kerja juga! yuuuhuuu...
sebenarnya ga sedramatis apa yang tersirat di post ini kok. tapi sebenarnya acara penyerahan kontrak kerja ini cukup ribet dan sempat diulur dari waktu yang dijanjikan. masalahnya karena bossku lagi sibuk banget waktu itu. masalah lain karena orang kedua yang harus menandatangani kontrak itu juga ga selalu ada di kantor. akibatnya koordinasi penandatanganan jadi mundur.
awalnya si boss niatnya mau nyerahin kontrak pas meeting kedua bersamaan dengan pembahasan gaji. ternyata sehari sebelum hari H, dia ngirim email panjang beserta penjelasan kalau kontrak kerjaku belum siap untuk diserahkan. ujung-ujungnya aku ke kantor cuma untuk bahas gaji aja. sehabis meeting itu hari yang disepakati sebagai penyerahan kontrak adalah hari Jumat. si boss bilang dia bakalan kasi kabar ke aku antara hari Rabu atau Kamis.


hari Kamis jam 3 sore, ga ada kabar berita. aku coba hubungi si boss, telepon di kantornya ga diangkat, mungkin lagi sibuk. aku kirim email, juga belum ada tanggapan. oke, berarti memang beneran sibuk. 
15 menit sebelum jam 6 sore aku telepon lagi si boss. dia langsung angkat telepon. intinya aku cuma mau nanya kapan bisa bikin termin untuk serah terima kontak kerja. (memang sih kontrak kerja juga bisa dikirim per pos, tapi si boss maunya nyerahin langsung, aku sih ngikutin aja). ternyata lagi-lagi harus diundur. si boss bilang kalau hari Jumat bakalan mepet banget untuk serah terima kontrak, jadi diundur ke hari Senin. aku sempat sedikit ga enak sendiri karena udah bolak balik nelepon si boss, tapi kalau ga menghubungi dan mencari tahu tentang hal ini juga ntar bisa bikin aku bingung. 
note: A: aku, SB: si boss


A: "Sebenarnya saya ga mau bikin Anda stress, saya cuma mau mengatur jadwal saya untuk minggu ini."
SB: *Malah ketawa* "Wah ini kayaknya pertanda baik nih, kalau Anda memang rajin ngatur jadwal gini, pasti ntar bisa kerja bagus jadi assisten saya."


aku jadi ikutan ketawa juga dengar komentarnya. 
singkat cerita, di hari Senin 5 menit sebelum jam 4 sore aku udah memencet tombol angka 4 di lift menuju kantor. si boss sendiri yang menyambutku, ga lama dia memperkenalkan salah satu pegawai Accounting. ngomong sebentar sambil mempersilakan aku masuk ke ruang meeting, si pegawai tadi -yang juga adalah orang kedua yang menandatangani kontrak kerja- nanyain aku.
note: SAk: sang akuntan, A: aku 

SAk: "Anda lebih suka kita pakai bahasa Jerman atau Inggris?"
A: "Saya ga keberatan berbicara dengan bahasa Jerman atau Inggris."
SAk: "Kalau begitu saya pakai bahasa Jerman ya?"
A: "Boleh."
SAk: "Jadi ini ketiga kalinya Anda datang ke sini?" *senyum-senyum*
A: *Nyengir* "Iya."


jadi malu sendiri karena belum juga kerja tapi udah mondar mandir di sana. aku udah memutuskan buat mengirimkan kontrak kerja lewat pos sesudah kutandatangani ntar. sewaktu sedang membahas tentang kontrak kerja dengan si boss...


SB: "Nanti kalau sudah ditandatangani, kontrak kerja serahkan langsung ke saya ya? Jangan serahkan dengan yang lain. Harus saya sendiri yang terima."
A: *Sedikit terpana habis itu nelan ludah* "Certainly, Sir."
SB: "Tapi kalau ga mau naik ke sini juga gak apa-apa, ntar saya yang turun jemput kontraknya."
Aku: "Yes, Sir."


berhubung si boss udah mengirim draft kontrak kerja di email, jadi aku udah baca semuanya dan malamnya aku baca ulang sebentar lalu kutandatangani. habis menandatangani kontrak, terpikir dalam hati: no way back. 
besoknya jam 10 pagi aku telepon si boss, maksudnya mau mampir bentar menyerahkan kontrak. dia nyuruh aku datang jam 11. untungnya koneksi transportasi dari apartemenku ke kantor juga ga ribet, jadi sebelum jam 11 aku udah sampe di sana. pas nelepon si boss buat ngasi tahu kalau aku udah sampe, dia malah bilang mau ngajakin ngeliat kantor baru. wah ini baru seru!


si boss ga lama turun setelah sedikit tertegun ngeliatin kalungku (jangan tanya kenapa). di hari itu aku memang make kalung besar dihiasi manik-manik. iya, aku emang suka make aksesoris yang unik dan ga biasa. 
kantor baru letaknya ga jauh dari kantor yang masih beroperasi sekarang. masih di jalan yang sama cuma beda nomor dan pastinya lebih besar dan lebih modern. suasana kantor baru masih dipenuhi materi bangunan, para pekerja masih bersliweran ngerjain jendela, pintu dan lainnya. menurut rencana mereka bakalan pindah kantor 2 minggu dari saat itu.
si boss nerangin dan nunjukin tiap-tiap ruangan, jelasin dimana ntar meja kerjaku dan ga lupa nunjukin ruang kerja dia sendiri. ya udah pastilah dia milih ruang kerja paling besar dan paling bagus. sewaktu kami sedang melihat-lihat lokasi, ternyata di ujung gang nongol sang arsitek. mereka berdua pun terlibat dialog tentang penggunaan cat di logo perusahan yang dibubuhkan di hampir tiap dinding bagian bawah. 
note: SB : si boss, SA: sang arsitek, A: aku


SB: "Wah ini nampak jelas sekali ya bedanya dengan kondisi yang lalu."
SA: "Iya, Pak. Kan udah saya bilang waktu itu, kalau saya ngikutin kayak pola aslinya, malah jadi kurang bagus hasilnya. Ini aja saya udah ekstrem banget ngecilin warna putihnya. Lihat nih Pak, segini loh saya ngecilinnya, segini." *meragain pake jari tangannya*
si boss ngeliatin mukanya dengan seksama, agak lama dari yang seharusnya. sang arsitek jadi ga enak sendiri diliatin kayak gitu, jadi bingung sendiri. tiba-tiba si boss ngomong,
SB: "Eh rambut baru yah?"
SA: "Eh?!" *tanpa sadar megang dan ngacak rambutnya sendiri* "Nggak kok, biasanya juga kayak gini."
si boss ketawa dan aku jadi ikutan ketawa denger percakapan ga nyambung gitu.
SB: "Ini sekretaris saya yang baru."
SA: *jabat tanganku sambil nyengir.*


kelar dari ngeliat lokasi kantor baru, aku pamit pergi. 
SB: "Nah sekarang Anda punya hal untuk looking forward to, kami juga looking forward buat bekerja dengan Anda mulai September nanti. Kalau begitu, Anda harus nikmati liburan Anda. Udah lama kan Anda ga mengunjungi keluarga di Medan? Tiga tahun, hm saya mengerti kalau Anda memang harus ketemu keluarga Anda. Saya harap Anda bisa benar-benar menikmati waktu Anda di sana."
A: "Thank you, Sir. I will definitely enjoy my time there. I look forward to meet you and the team on the 7th."


sehabis salaman, aku balik badan menuju halte tram. 
kontrak udah diserahkan. there's no way back. that's why I have to move forward.
aku tersenyum sambil mempercepat laju langkahku.