Monday, 29 July 2013

PARIS, FRANCE

Udah hampir tengah malam.
Adalah waktu tepat untuk nyari wangsit sambil nulis blog.
Kali ini aku pengen nyeritain soal liburan di Perancis.
Bagaimanapun aku pingin update blog, menuliskan setiap pengalamanku di negara yang (katanya) paling romantis sedunia. Benarkah begitu?
Mari kita bahas bersama.

Note: Selama di Perancis aku mengunjungi tiga kota; Paris, Bordeaux dan Marseille. Jadi bakalan ada tiga tulisan untuk masing-masing kota. Tentu saja berdasarkan urutan tanggal. Selain itu aku bakalan menulis posting khusus tentang kuliner selama di sana.
Dan sekarang mari kita bertualang ke Paris!

Day 1:

Sehari sebelum liburan aku udah excited banget, walau kalau urusan koper aku selalu bongkar pasang beberapa kali sebelum 'resmi' berlibur. Rekan kerja di kantor udah heboh aja nanyain kemana aku liburan, terutama yang pernah tinggal di Perancis. Mendengar cerita mereka rasanya makin ga sabar untuk menginjakkan kaki di negara Perancis.

Besoknya aku berangkat bareng si pacar ke stasiun utama di Zurich. Jam 7 pagi kami berdua udah nangkring di café dengan khusyuk, antara mengamati croissant dan menyeruput minuman panas. Ramalan cuaca di Paris memang ga bakalan cerah, jadi udah bersiap mental untuk sakit hati kalau tiba-tiba dingin menyerang.

Kereta TGV pun berangkat dari main station Zurich.
Sungguh bukan maksud hati mau sombong, tapi kalau kamu udah terbiasa menaiki kereta di Swiss terus tiba-tiba naik TGV yang ga bisa dibilang nyaman, perjalanan selama 4 jam juga ga begitu asik. Hal penting yang untungnya ga aku lupa selama liburan adalah: bawa buku!
Total selama liburan kali ini aku baca dua novel. Ga apa-apa berat dikit asal hati senang dan ga perlu uring-uringan selama di TGV.
Kami sampai di Paris tepat waktu sekitar tengah hari. Sedikit muter-muter di stasiun pas nyari hotel. Untungnya ga terlau rumit. Dengan ga terlalu mengharap akan hotel mewah, secara di Paris harga hotel membumbung tingginya, kami sampai di hotel. Tapi tetap aja sedikit 'takjub' ngelihat ukuran kamar yang mini (ga tega mau nulis 'terlalu kecil'). Tanpa banyak protes kami langsung nyari restoran untuk makan siang. Ga jauh dari hotel ada restoran kecil dan jadilah kami makan dengan lahap di sana.

Kelar makan, si pacar dan aku memulai petualangan kami.
Walau cuaca ga terlalu mendukung, tapi aku udah siap sedia dengan kamera. Pokoknya mendung dan angin ga bakal menyurutkan suasana liburan!



Sacré-Cœur

Kunjungan pertama yaitu: Sacré-Cœur
Gereja yang mulai dibangun dari tahun 1875 hingga akhirnya selesai tahun 1914 ini memang selalu jadi salah satu objek wisata di Paris. Selain itu dari ketinggian gereja ini para pengunjung juga bisa menikmati pemandangan kota Paris. 
Yang ngeselin di sana adalah banyak gerombolan anak muda (baca: setengah preman) yang entah ngapain pada nongkrong di situ. Kehadiran mereka sumpah bikin suasana ga enak, kadang malah menjurus untuk mengganggu turis dengan nanya hal ga penting atau sedikit maksa. Untungnya aku ga ada ditanyain mereka. Tapi hal itu tentu aja ga bisa mengubah budaya yang udah lekat: berfoto! :D
Puas berfoto, kami mampir ke salah satu toko coklat. Sayang aku lupa namanya, pikiran masih juga di Zurich jadi belum ngeh dengan keadaan di Paris.



Lucunya salah satu pemandangan di Paris yang kujumpai di sekitar gereja adalah toko yang menjual baju dengan harga ramah di kantong para imigran. Toko itu penuh dengan barang dagangan berupa pakaian, saking penuhnya cuma bisa ditumpuk sampai manjatin dinding di bakul baju. Benar-benar bertolak belakang dengan image Paris yang dikenal dengan kota mode. Ini adalah salah satu hal yang kusenangi dari travelling, bisa tahu sisi lain dari tempat tersebut. Paris bukan cuma mode, catwalk, menara Eiffel plus pasangan sibuk berciuman. Tapi lebih dari itu ada sisi lain yang bisa dikenal. Walau itu belum tentu indah dipandang :-)


Paris, the city of fashion...

Perjalanan kami lanjutkan ke arah: Moulin Rouge.
Kabaret ini gak terlalu jauh dari Sacré-Cœur, terletak di distrik Pigalle yang terkenal dengan deretan hiburan seksnya. Si pacar bercanda: Habis berdoa di gereja, langsung ke Moulin Rouge :D
Bangunan dimana Moulin Rouge berada ga begitu strategis untuk dipotret. Sebagai turis plus tukang foto amatiran aku kesulitan memotret dengan angle yang bagus. *dohh bahasanya..* Alhasil cuma foto seadanya.



Kami balik ke hotel dengan sedikit kedinginan, terutama aku yang cuma bawa jaket yang ga terlalu tebal ala kadarnya. 
Tapi koperku juga ga terlalu besar jadi mau bawa mantel udah makan tempat banyak, terpaksa harus nahan dingin dikit deh.
Malamnya si pacar ngajak makan malam di restoran Ze Kitchen Galerie. 
Restoran ini menyajikan campuran dari barat dan timur. Malam itu kami makan sampai kenyang! :o)

 Day 2

Setelah tepar semalamnya, hari ini petualangan dilanjutkan.
Dengan semangat aku bangun pagi, bukan untuk antri beras miskin tapi buat mengantri di Museum Louvre. Jam 8 pagi kami udah nangkring buat sarapan di salah satu kafe di dekat Opera. Walau cuma sarapan seadanya tapi senang bisa nikmati croissant yang enak banget di Perancis. Croissant di Swiss memang ga seenak di Perancis. 


Finding Maria Magdalena

Watchout pickpocket!

Sekitar jam 08:30 kami udah memasuki kawasan Musée du Louvre. Para pengunjung udah berbaris rapi dan tentu saja barisan itu disuguhi pemandangan indah dari tanda peringatan hati-hati terhadap copet. Suasana masih lengang jadi kami putusin buat berfoto dan setelahnya cepat ambil posisi sebelum antrian tambah panjang. Lima menit sebelum buka antrian udah puanjanggg aja. 

Pukul 09:00 teng pintu dibuka dan para personel sekuriti siap siaga.
Seperti para turis Asia lain yang berbondong-bondong di sana, hal pertama yang kami buruan pengen lihat udah tentu lukisan Monalisa. 
Yeah, pemikiran kami emang ga jauh beda dengan plot film komedi romantis Hollywood, alias gampang ditebak.
Untungnya karena baru buka jadi ga terlalu susah buat memotret The Lady ini. Paling tinggal senggol dan dorong turis Korea dan Cina yang udah sibuk berpose dengan gaya andalan yaitu peace sign.




Les Noces de Cana - Paolo Caliari

Perjalanan ke Perancis ini juga sebenarnya buat merayakan dua tahun kebersamaan kami berdua.
Aku udah nyiapin kejutan kecil buat si pacar yaitu hadiah berupa kacamata yang dia pengen beli. Berhubung aku ga sempat bikin persiapan besar, jadi milih moment yang tepat buat ngasi hadiahnya. Musée du Louvre pun terpilih sebagai tempat yang pas untuk menyerahkan hadiah. 
Dengan niat ingin menyaingi adegan film atau video klip, aku nunggu buat nyerahin hadiah dengan sedikit ga sabar. Sempat takut si pacar bakal ga sengaja buka tasku untuk nyari kunci atau ngambil dompet yang biasa dia titipin di tas. Untungnya dia ga tahu.
Kejutan pun sukses disajikan :o)

Cuaca memang sama sekali ga berpihak ke kami selama di Paris.
Keluar dari Louvre, udara mendung dan udah hampir hujan. Rencananya kami mau ke pusat perbelanjaan La Fayette. Stasiun metro ga jauh lagi tapi berhubung hujan deras terpaksa kami harus berteduh sebentar. Jalan ke arah stasiun ditutup karena ada photo shooting bagi para model. 
Seharusnya ini jadi pemandangan menyenangkan dimana saat hujan hampir reda mata disuguhi para model ganteng keren berbadan tinggi. Tapi entah kenapa hal itu malah bikin aku kesal. Bukan karena aku sedang bersama si pacar tapi hujan waktu itu benar-benar mengesalkan, jalan ke stasiun ditutup dan terpaksa harus memutar sedikit. Siapapun itu walau mereka para model keren tetap aja rasanya udah merusak suasana liburan :-(

Sesampai di La Fayette si pacar berbaik hati membelikan aku sepasang flat shoes. Yeay! Senangnya...
Udah bisa ditebak kalau aku ga beli apa-apa di sana. Selain karena aku udah dapat hadiah sepatu, belanja juga kurang nyaman karena semua tempat dipadati turis (terutama dari Asia) yang mengantri di toko dan counter seperti Louis Vuitton, Furla, Longchamp dsb. Berhubung aku ga ada niat mau belanja besar-besaran (baca: bokek) jadi cuma mengitari La Fayette aja. Lagian dana juga udah dialokasikan untuk keperluan lain yaitu perjalanan ke Bordeaux dan Marseille yang akan dijalani. 

Keluar dari La Fayette kami makan di salah satu restoran ga jauh dari situ. 
Restoran ini sangat tidak direkomendasikan. Berhubung cuaca hujan deras jadi kami juga ga bisa mencari tempat dalam waktu singkat sementara perut udah keroncongan. Terpaksa restoran ini jadi tersinggahi. Rasa bebek yang kupesan sangat absurd, pesanan si pacar juga sama anehnya. Kami pun berjanji ga bakalan mau balik ke restoran ini lagi. 

Pergi ke Paris belum afdol kalau belum mengunjungi Eiffel Tower.
Karena itu walau kaki ini rasanya mo patah kami masih juga berjuang di hujan gerimis demi satu menara yang didesain oleh Maurice Koechlin dan Émile Nouguier ini. Rombongan turis berduyun-duyung menuju La Tour Eiffel dan para pedagang juga ga mau kalah unjuk kebolehan menjual dagangannya:
"Three keychains for 1 Euro!"
Itulah kalimat sakti mereka, menjual mimpi tentang Eiffel sambil mengharap para turis sama sekali ga mengetahui kalau gantungan kunci itu diproduksi di China. Hal ini sedikit menyebalkan karena para penjual itu kadang bersikap kasar. Jadi mending jauh-jauh aja kalau memang ga mau berurusan dengan mereka yang ga ragu untuk mengikuti kita terus.



Okay okay, everyone know what it is...

Kunjungan ke Eiffel Tower cuma sebentar, dalam perjalanan ke stasiun metro kami berhenti sebentar untuk minum kopi. Selama di Perancis aku cukup susah menyesuaikan diri untuk bisa memesan kopi agar bisa dimengerti masyarakat Perancis. Mereka ngerti kalau kita memesan cappuccino, tapi ga mengerti kalau kita memesan latte macchiato. Ga tahu apa memang mereka ga menegerti atau pura-pura ga tahu, mengingat bagaimana orang Perancis mungkin alasan kedua itu benar.

Sebelum makan malam kami menyempatkan diri buat melihat-lihat daerah sekitar hotel yang belum sempat terjelajahi. Ternyata ga jauh dari situ banyak hal-hal lucu dan unik; gas station yang keberadaannya tepat di trotoar jalan, graffiti di sana sini juga toko-toko kecil menarik.


Funny sign :o)

One of the building with graffiti

Malamnya kami makan di Le Grand Café Capucines.
Suasana di sini lumayan enak, sepertinya selalu ramai pengunjung. Kami menikmati makanan dan tentu saja nikmati wine sambil merayakan dua tahun kebersamaan :-)

Day 3

Hari ini perjalanan akan dilanjutkan ke Bordeaux. Sebelum ke Bordeaux si pacar mengajakku pergi jalan-jalan sebentar. Tujuannya adalah: Bourse de Paris atau Paris Stock Exchange.
Naik metro sebentar setelah sempat salah rute kami akhirnya sampai di Place de la Bourse. Tadinya sempat sedikit takjub, kenapa kantor bursa efek sepi. 
Ternyata itu adalah hari Sabtu. Ya jelaslah sepi dan hampir ga ada orang.



 Bourse de Paris

Kami memutuskan untuk sarapan di sekitar kantor bursa saham. 
Untungnya perjalanan ke Paris ditutup manis dengan mengunjungi: Pain de la Bourse. Café dan restoran ini letaknya di seberang jalan dari Bourse. Benar-benar ga menyesal untuk meluangkan waktu datang ke tempat ini! Sehabis sarapan kami balik ke hotel untuk check out.  

Kesanku selama di Paris; senang karena bisa membuktikan bahwa Paris tidak seromantis yang orang bayangkan, steriotip ini mungkin bakalan bergeser mengingat banyaknya gelandangan yang tidur di jalanan. Begitupun bukan berarti kota ini tidak cantik. Tapi penilaian ini hanya dibuat berdasarkan 3 hari kunjungan, dalam cuaca buruk pula! Semoga saja ada kesempatan di masa datang untuk mengunjungi kota ini lagi.

Perjalanan ke Bordeaux sudah menanti!

Tuesday, 16 July 2013

Shoes Fever

Baca judul di atas udah bisa ditebak isinya apa *ga kreatif*.
Udah masuk tengah tahun yang berarti: SALE!!!
Di pusat kota hampir setiap toko digantungi atau ditempeli warna meriah, terutama warna merah. Buatku yang berkantong pas-pasan gini, hal ini adalah cobaan berat.

Gimana nggak, rute naik tram dari tempatku tinggal ke kantor harus melewati Bahnhofstrasse yang merupakan pusat perbelanjaan di Zurich.
Pengen nutup mata, tapi takut malah ketiduran dan lupa turun.
Kalau ga nutup mata, ntar malah jadi mataku serasa didzolimi oleh barang-barang yang pake tag merah terang bertuliskan 50%, 70%. Sayang ga ada bertuliskan 100% atau 'Monggo dibawa pulang' dan semacamnya.

Terus, belanja nggak di musim sale?
Ya iyalah! :D
Kali ini aku belanja sepatu.
Bermula dari beli sepatu wedges warna hitam yang tak lain sebagai successor buat sepatu wedges ungu pucatku. Sebenarnya masih suka banget makai sepatu ungu tadi, tapi warnanya udah ga layak tayang lagi :-(*sinetron kali*


I love wedges!

Selang kira-kira seminggu sesudahnya, aku malah jadi belanja sepatu lain. Berhubung sepatu buat ngantor udah bulukan (dan sekarang dijadiin sepatu pas cuaca hujan), tanpa sengaja aku nemu sepatu Kennel & Schmenger yang sale 70%! Dari dulu pengen beli sepatu sejenis ini tapi diskonnya cuma dikit *ketauan bokeknya*. Akhirnya kesampaian juga beli sepatu kerja baru.

 Tough but still need time to get use to wear them...

Berhubung aku udah lama ga punya sandal terbuka, ngelihat sale jadi pingin beli.
Alhasil, sewaktu jam makan siang sekalian beli perlengkapan kantor, kaki juga menyinggahi toko sepatu. Sandal terbuka yang lumayan tinggi ini cuma berani aku pake di kantor. Bukan cuma karena di kantor semua lantai dilapisi karpet yang bikin ga susah jalan, tapi juga karena udah lama ga makai hak tinggi jadi harus latihan jalan lagi :D

They are staying at office :-)

Sepasang sepatu lain yaitu flat shoes.
Alasannya karena sepatu balerina udah bulukan dan ga ada jalan lain buat bisa jalan enak sewaktu liburan selain make sepatu bersol datar. 


My favourite flat shoes (until now..)

Satu lagi sepatuku yang bentuknya lain dari lainnya.
Modelnya lain karena ada bling chains :-) Sayangnya sepatu ini ga bisa aku pake sering soalnya kurang nyaman dipake. Udah tau ga nyaman dipake, ngapain juga dibeli?! :D



Kalau dipikir-pikir aku jarang punya sandal.
Sandal yang aku punya cuma sandal buat dipakai di apartemen dan sandal yang jarang aku pake soalnya kalau rusak ga tau lagi mo beli dimana.
Sandal berhias scarf merah yang bisa dililit di betis ini baru aku pakai sekali pas liburan ke Perancis baru-baru ini (padahal belinya dari tahun lalu!).

The Shoes Lover

Satu jenis sepatu yang juga jarang aku punya: sneakers!
Semoga bisa beli lagi. Hampir semua orang tercengang dengar aku ga punya sneakers.
Am I that wierd?!

Btw, menyambung dari post terakhir.
Setelah bersemedi dan minum air keran, si pacar dan aku mutusin buat mencoba lagi hubungan kami yang sempat terputus (seminggu doang!). Memang, aku sempat kesal sampai langit ke tujuh.
Sampai aku nyangka dikasi mukjizat ma Tuhan karena tiba-tiba ada buraq yang bawa aku ke langit ke tujuh. Rupanya nggak. Ternyata karena kesal ma tingkah si pacar. Begitupun aku juga sadar kalau aku juga pernah buat salah. Dan walaupun kadang kami bertengkar, ternyata kami memang saling cinta. 
Well, second chance isn't that bad at all.
Okay, sekarang semuanya boleh muntah.

Tulisan ini udah lama pengen aku publish tapi sekali lagi kesibukan akhir-akhir ini bikin tepar! Aku rindu ngeblog!
Hopefully soon I will be able to publish about my holiday in France.

Good night, blogger!

Friday, 14 June 2013

Farewell

Di setiap kisah pasti ada awal dan akhir.
Begitu juga dengan kisah cinta saya.
Siapa sangka baru saja saya dan si mantan pacar genap merayakan dua tahun kebersamaan, seminggu berikutnya kami malah berpisah.
Sedihnya diiringi oleh pertengkaran, pula.
Kalau dirinci di sini sebabnya apa saya bakalan akan terkenal mendadak. 
Jadi lebih baik tidak.
Berat memang, tapi kalau memang untuk yang terbaik, saya akan jalani.
Walaupun sudut hati saya masih merindukannya :'(

Tuesday, 21 May 2013

Just About Time

Kalau saja kegiatan menulis-sambil-tidur bisa dilakukan, mungkin saya bakalan mau menerapkannya. Dari sejak post terakhir, saya rindu buat menulis. 
Tapi niat belum tentu bisa diterapkan.

Di ruang tamu sudah nangkring sebuah koper ukuran sedang berisi sejumlah pakaian. Tenang, saya belum mau pindah dari negara Swiss, masih betah kok :D
Hari Kamis saya bakalan liburan sekitar 9 hari di Perancis. Rencananya bakalan meninjakkan kaki ke Paris, Bordeaux dan Marseille. 
Tentunya bersama sang pacar.

Biarpun Perancis cuma sekitar 4 jam naik kereta dari Zurich, bukan berarti saya udah pernah bertandang ke sana. 
Ini aja baru ada kesempatan (baca: ada duit) ke sana. 
Saya udah ga sabar pengen liburan, pengen membuktikan apa benar Perancis itu seperti yang digambarkan di film?
Well, saya cukup pesimis mengingat banyaknya kasus demonstrasi di Perancis :o)
Begitupun, semoga saja liburan ini menyenangkan.
Ingin melupakan sejenak semua masalah, segala deadlines. 
Saya juga kangen bangun lebih lama dari biasanya.
Udah lebih dari setengah tahun ini saya bekerja cukup keras, berusaha memberikan performa terbaik.
No wonder I need holiday.
It's just about time....

Sunday, 3 February 2013

lima persen

entah kenapa saya mulai update blog akhir-akhir ini mulai jam 22.00 ke atas.
ingat mau update blog sih biasanya di siang hari. bahkan di saat tidak tepat sekalipun saya malah teringat ke blog saya, misalnya pas lagi bikin jadwal kunjungan kerja si atasan saya, sewaktu lagi bikin cappuccino ataupun teh, bahkan saat sedang mengutak atik program power point bisa-bisanya saya mikir;
"Ntar mau update blog, ah!"

tragis?
gak juga. sebenarnya saya sedikit menyemangati diri sesudah punya pikiran seperti itu. dengan tekad 'pengen-ngeblog-45-sepulang-kerja' saya lanjutin bekerja, tapi kadang wacana di otak berbeda dengan hasil alias realita. pulang kerja saya udah tepar, paling banter masak seadanya dan selebihnya terkantuk-kantuk di depan laptop. 
akibatnya, keinginan update blog pun gagal lagi.
petualangan berakhir *eh kok kayak nge-game* :D

aaaanyways, hidup saya overall baik saja.
di awal tahun saya dapat kabar gembira. gaji saya naik :-)
perubahan ini tentu saja bikin saya senang. naiknya sih belum banyak, cuma lima persen. begitupun saya tetap mengucapkan alhamdulillah banget atas hal positif ini, apalagi mengingat saya baru bekerja empat bulan. 
apapun itu saya tetap mengucap syukur. walaupun jumlahnya kecil. 
walaupun hanya lima persen.
saya percaya dengan tetap bersyukur, saya bukan hanya berterima kasih ke Sang Pencipta tapi juga saya akan lebih menghargai diri dan kemampuan saya sendiri. sekecil apapun keberhasilan dan kesuksesan yang saya raih akan tetap saya syukuri.

kerjaan saya terus terang lebih sibuk dibanding bulan Desember lalu. sebabnya karena jadwal kunjungan kerja atasan saya lebih banyak dibandingkan tahun lalu. bahkan salah satu kunjungan kerja dia adalah ke Indonesia. 
yup, beberapa client adalah perusahaan Indonesia. sebenarnya ini bukan pertama kali saya mengatur jadwal dengan perusahaan Indonesia, di bulan Oktober lalu saya juga handle kerjaan ini. tapi kali ini bakalan untuk beberapa perusahaan sekaligus. 

saya ingat sewaktu saya harus menulis email balasan ke perusahaan di Jakarta tersebut, saya bengong di depan layar monitor yang menurut saya ukurannya terlalu besar buat saya alias 27 inch. 
waktu itu saya mikir, mm gimana saya nulis balasan emailnya nih? 
mendadak saya lupa gimana nulis pakai bahasa Indonesia :-(

bentar dulu, bukannya saya tidak nasionalis *padahal memang iya sedikit* :D 
saya selama ini sedikit 'terbiasa' menulis dengan bahasa Inggris dan Jerman dalam urusan pekerjaan. otomatis jadi geming mendadak. ujung-ujungnya saya balas pakai bahasa Inggris juga *mengelus dada* tapi di bagian bawah saya selipkan kalimat bahasa Indonesia dengan maksud agar para Bapak yang menerima email saya bisa lebih leluasa berkomunikasi dan membuat janji dengan perusahaan kami.
kita lihat saja nanti bagaimana suhu dan kondisi perekonomian. jujur, saya juga sedikit excited untuk mengatur business trip ini :-)

udah dua hari ini saya begadang terus.
sumpah, saya kangen dengan begadang. saya gak peduli walau tindakan ini bikin saya musuhan sama Bang Rhoma. *heh??!* 
'Judi!!!' (loh kok malah dangdutan?).
saya sedang pengen merasakan lagi gimana begadang. beberapa bulan terakhir ini saya merasa capek banget, tidur juga harus cepat (walau kadang kebablasan karena baca novel di atas tempat tidur). saya rindu buat sekedar bergelung di balik selimut di sofa sambil nonton film di tv atau browsing di internet, sapa tahu ada film gratis *maksudnya? :D*

akhirnya jadilah dua malam terakhir ini saya begadang.
walaupun besoknya ngantuk tapi hati saya sedikit senang. senangnya sih bukan seperti waktu Tom Hardy menyatakan cinta ke saya (itu kapan pula terjadinya?!). tapi saya merasa sedikit puas, sedikit lega dan mungkin juga merasa kerinduan akan kegiatan begadang bisa terobati.
tambahan lagi, saya rindu untuk menulis. bagaimanapun kegiatan menulis sudah jadi bagian dari hidup saya sejak kecil, dari menulis buku harian, puisi, cerita pendek, ikut lomba mengarang (walau hanya sebagai peserta cadangan dan akhirnya menang), menulis blog. 
selama beberapa saat kegiatan menulis saya yang tadinya bersifat 'fun' berubah drastis ke arah lain seperti; menulis test alias ujian yang hampir tiap minggu diadakan, terus waktu saya praktikum tulisan saya berubah ke arah menulis formulir pendaftaran siswa dan sekarang business correspondence.
yang paling saya suka tentunya adalah menulis blog :-)

blog memang adalah hal cukup penting buat saya (walau tak jarang saya lupa update). buat saya blog adalah stress release, walaupun saya tak perlu menulis gamblang dan mengungkapkan tiap detail apa yang terjadi di hidup saya, tapi sehabis update blog saya merasa lebih baik. 
mungkin terlalu hiperbola bila menulis metafora seperti mendapat pencerahan, tapi sebenarnya hal itulah yang terjadi.
menurut saya, dengan update post saya seperti mencerahkan diri saya sendiri dengan membuka satu lembaran lain di hidup saya. satu kisah sudah saya tulis dan simpan di memori hidup dan apapun emosi yang saya bagi lewat menekan tombol publish akan tetap terus jadi bagian dari hidup saya.
saat menulis begini saya bertekad ingin lebih rajin update.
saya tahu, janji memang (bisa jadi) tinggal janji. namun bukan berarti tidak bisa ditepati *ngeles*. so, I will keep saying to myself:
keep on writing!

Friday, 4 January 2013

2012 to 2013: Being me lately

Senangnya bisa menulis lagi!

'Sup everyone? *gaya Sheldon Cooper*
Kali ini saya cuma mau rangkum kejadian-kejadian yang melintas di hidup saya di peralihan tahun 2012 ke 2013. Seperti biasa malas basa-basi soal resolusi :D

- Saya sudah lulus Probezeit, alias Probation alias masa percobaan kerja 3 bulan :D Ga bisa dibilang, rasanya senang banget!
Udah lama rasanya saya menunggu keputusan ini, begitu diumumkan rasanya hampir ga percaya. Kontrak yang tadinya cuma 40% meningkat jadi 60% mulai Januari 2013.
Tahun 2013 sudah diawali dengan hal menggembirakan.
Jadwal kerja saya bakalan lebh teratur dibandingkan 4 bulan lalu. Hal positif dari faktor ini adalah saya bakalan lebih bisa atur jadwal saya, lebih bisa 'bernafas' bahkan bisa berjumpa dan ngopi bareng teman-teman saya. Hal negatifnya adalah saya bakalan sering 'rindu' akan gaji saya, hasil bekerja 100%. Begitupun, harus tetap dijalani dengan semangat.
Lebih banyak tanggung jawab dan pekerjaan juga makin kompleks.
Senang rasanya!

- New Camera!
Akhirnya setelah bertabah diri buat melihat kondisi kamera Casio bulukan saya, di bulan Desember saya putuskan buat membeli kamera baru.
Tadinya sempat bingung dan tetap mau beli kamera slim yang bisa gampang digenggam. Tapi setelah bersemedi dan melakukan pencerahan diri, saya putuskan buat beli: Nikon J1.
Yup, sebuah kamera yang sama sekali tidak 'tipis', baik itu dalam ukuran maupun dalam hal harga :-(
Tapi (lagi-lagi) si pacar malah membelikan saya kamera itu, buat hadiah natal katanya. Walaupun saya tidak merayakan tapi tetap dapat 'jatah' hadiah :-)

Pastinya saya girang banget! Sebenarnya sudah lama saya demen dengan kamera ini tapi karena tahu diri kalau saya tidak ada bakat fotografi jadi keinginan ini saya pendam. Begitupun semangat untuk punya kamera kualitas lumayan tetap ada di dalam hati, walau nyala semangatnya diredam *mungkin keadaan ini sama persis seperti ibu-ibu yang punya kompor merk 'Hock' dan berusaha mengecilkan nyala sumbu api dengan memutar kenop sumbu berbentuk bulat ke arah kiri* :D

P.S.: makasih, sang pacar!

- Natal dan Tahun Baru
Kali ini Natal cuma dilewatkan di sekitaran Zurich saja. Adik si pacar datang bersama anaknya, kami makan malam dengan fondue chinois.
Suasana sederhana saja.
Saat itu saya memang setengah hati buat bernatalan, gak tahu kenapa. Mungkin waktu itu saya sedang PMS :D terlepas dari itu, kondisi saya drop.
Demam, batuk dan pilek tiba-tiba cinta mendadak ke saya.
Susah lepas dan bikin saya makin pusing.
Begitupun saya tetap semangat membuka hadiah *disabet pakai pohon natal*. Si pacar menghadiahkan novel kriminal dari Swedia, The Hypnotist dari Lars Kepler. Sedikit cerita, saat ini si pacar berada dalam 'Japan mood', dia saat ini sedang menikmati novel yang saya hadiahkan setahun lalu (!) 'Out' dari Natsuo Kirino. Awalnya dia sedikit skeptis, mungkin karena belum pernah mengetahui karya orang Jepang. Di saat ini dia sedang bersemangat membaca; sedikit terkagum, takjub sampai shock dengan plot cerita kriminal kompleks khas Natsuo Kirino. Saking terpesonanya, dia malah menghadiahi adiknya novel Haruki Murakami :o)

Natalan juga diadakan dari kantor saya. Berhubung masih perusahaan kecil, jadi tradisi masih melekat yaitu membawa pasangan ke acara Christmas Dinner.
Saya juga ikut-ikutan 'menyeret' si pacar ke acara ini, acaranya berlangsung cukup lama dari jam 5 sore sampai hampir jam 23:30.
Cukup meriah dan kami pulang dengan senang hati :o)

Tahun Baru juga kami lewatkan dengan sederhana. Kondisi saya belum juga pulih, kepala pusing, cairan masih juga berusaha keluar dari hidung. Tapi kami melalui tahun 2012 dengan senang hati, apalagi berhasil melewati 'kiamat 2012' dengan selamat *yaelahhh dibahas!!*



Lalu bagaimana dengan hidup saya akhir-akhir ini?
Biasa saja, dalam artian masih terus berusaha belajar banyak dan mengurusi hal yang belum selesai.
Banyak hal yang harus saya pelajari, tentang hidup di perantauan, tentang berusaha mandiri, tentang mengatur finansial, tentang hubungan saya dengan si pacar, tentang berkeluarga dan pastinya tentang pekerjaan saya.

Mungkin karena keterbatasan waktu saya belum sempat bercerita tentang saya, pekerjaan dan lingkungan sekitar saya dalam konteks pekerjaan ini.
Saya berterima kasih dan bersyukur mendapat pekerjaan ini di saat yang benar-benar tepat. Saya juga sadar bahwa saya masih 'anak bawang' di kantor -dalam hal umur dan pengalaman- tapi itu bukan saya jadikan penghalang, justru harus jadi pacuan untuk lebih maju.
Saya juga sadar, banyak orang yang meremehkan kemampuan saya. Tidak perlu dibilang siapa, namun saya bisa menangkap tatapan 'masa-iya-lo-bisa-dapat-pekerjaan-kayak-begini?' dari beberapa pihak. Biasanya saya cuma senyum saja.
Bukan hanya tatapan yang saya peroleh, tapi juga kadang sindiran dan ejekan.
Tidak begitu jelas kenapa, mungkin karena saat ini saya berusaha fokus ke pekerjaan jadi perhatian saya teralih dari hal lain.
Fokus ke suatu hal memang bisa menimbulkan dampak bahwa saya dicap 'sombong', 'sok sibuk', 'sok profesional' atau bahkan 'sok kantoran' dari berbagai pihak.

Saya tidak marah, apalagi membalas sindiran tersebut.
Menurut saya, saya cuma melakukan hal yang memang sepatutnya saya lakukan: menyenangi pekerjaan saya juga berusaha belajar dan bekerja sebaiknya.
Alasan yang bisa saya kemukakan tentang hal 'sombong' karena waktu saya berkurang drastis untuk bepergian, bertandang bahkan sekedar mengopi bersama teman karena memang saya tidak sempat. Jadwal bekerja saya memang masih carut marut, risiko pekerjaan yang saya dapat ini memang menuntut fleksibilitas. Saya harus bisa stand by bekerja dan itu saya patuhi. Otomatis hal lainlah yang terkorban. Namun saya tidak bermaksud untuk 'sombong' apalagi 'sok sibuk'.
Waktu untuk diri saya sendiri saja saya masih keteteran mengaturnya, bagaimana lagi untuk orang lain? Memang time management itu penting, tapi begitupun saya masih berusaha belajar untuk mengaturnya.

Perihal saya yang dianggap 'sok kantoran' atau 'sok profesional' itu juga saya tak mau tanggapi.
Terus terang saya kurang mengerti kenapa saya dicap begitu.
Padahal saya bukan kategori manusia yang suka umbar business card loh, kecuali terpaksa :D bahkan dengan teman saya sendiri saja saya berikan kartu saya untuk yang benar-benar saya percaya.
Kemungkinan beberapa kali saya pernah menulis status atau upload foto di facebook. Tapi kedua hal ini bukan saya lakukan tiap hari.
Saya lakukan sesekali saja.
Saya bukan orang kurang kerjaan yang bahkan di saat meeting juga sempat ketik ketik status sambil mengomentari meeting tersebut. Saya tidak segila itu.
Saya juga otomatis jarang mengecek email pribadi saya, email yang saya pakai sekarang memang corporate email.
Bukannya saya mau 'sok keren', tapi ada alasan di balik itu.
Si atasan saya sering sekali mondar mandir keliling kantor. Masa iya saya yang anak baru malah 'petentengan' sibuk cek email pribadi di kantor. Bukannya dilarang, tapi saya sadar diri dan berusaha jaga sikap di kantor. Sekali lagi bukan karena mau 'sok keren' tapi rasanya tidak lucu saja kalau atasan saya menangkap basah saya cek email pribadi, bisa-bisa saya dianggap cuma mau browsing internet saja di kantor.
Mungkin hal ini yang disalahartikan orang lain. Entahlah, saya memilih diam.
Toh mereka juga tidak tahu bagaimana keadaan saya sebenarnya di kantor.


Barangkali ada yang merasa saya 'sombong', 'sok profesional' atau 'sok kantoran' hanya berdasarkan hal tersebut? Bisa saja.
Kenapa tidak?
Pekerjaan ini saya dapat dengan usaha saya sendiri, tanpa koneksi, tanpa nepotisme, murni hasil otak saya sendiri yang tengah malam berulang kali mikir untuk menekan tombol send saat mengirimkan aplikasi lamaran saya ke perusahaan reasuransi ini.
Sudah pasti saya bahagia salah satu keinginan dan mimpi saya tercapai untuk bisa bekerja di Swiss. Apalagi pekerjaannya termasuk lumayan, menurut standard saya (kalau menurut standard orang lain bisa saja ini masih pekerjaan hina dan standard gajinya juga mungkin jauh lebih rendah di mata mereka).

Tapi menurut saya ini adalah rezeki nomplok, durian runtuh, atau apalah namanya saya juga sudah banyak lupa pribahasa. Yang namanya rezeki, akan saya usahakan untuk tetap bertahan memilikinya. Menurut saya, wajar juga saya merasa excited akan hal baru ini. Pada saat jatuh cinta seseorang juga akan bereaksi sama; rasa semangat berkobar, semua hal jadi mungkin, hal lain bisa sedikit terlupakan karena pada saat itu titik fokus di kehidupan bergeser, dan akan terus melafalkan nama kekasihnya walau orang lain tak peduli dan menganggap itu bodoh.

Saya juga begitu,walaupun saya bukan dalam suasana jatuh cinta.
Pekerjaan ini adalah hal penting di hidup saya, tiang dan fondasi saya untuk hidup mandiri di Swiss. Apapun kata orang lain, saya tidak akan peduli.
Pastinya saya sedikit sedih diejek seperti itu.
Apakah hidup mereka sudah sama dengan kata sempurna? Pastinya tidak, karena tidak ada sebuah kesempurnaan. Tapi mengapa tega mengejek dan menyindir saya begitu? Padahal saya sudah diam saja, saya tidak berkomentar. Saya memilih diam, karena merasa tidak perlu mencemplungkan diri ke tingkat 'saling ejek dan sindir'.
Untuk apa?
Lebih baik saya fokus dan mengalihkan energi negatif dan kesedihan ke arah yang positif. Lebih baik saya mengerjakan hal lain, lebih baik memikirkan hal lain.
Pastinya lebih berguna.
Mungkin mereka sedang marah ke suatu hal, jadi saya yang dijadikan sasaran.
Mungkin juga marah ke saya, yah kalau alasannya begini saya minta maaf.
Sekali lagi, saya tidak bermaksud 'sombong', 'sok sibuk', 'sok kantoran' seperti yang dikira mereka.
Sama sekali tidak.

Pekerjaan saya mungkin suat hal remeh dan kecil untuk orang lain, tapi untuk saya ini adalah titik tolak hidup saya -atau bahasa kerennya turning point, gitu yah nulisnya? :D -
Gaji saya mungkin tidak seberapa, tapi saya cukup bangga karena dengan gaji sedikit itu saya bisa belajar menghidupi diri sendiri, belajar berdiri dengan kaki sendiri. Mungkin ada yang mengatakan bahwa saya telat dalam hal belajar mandiri, tak apalah. Lebih baik telat tapi saya bisa benar-benar menghargai hidup dan hasil jerih payah saya.
Toh telat juga bukan berarti saya gagal mutlak.

Turning point ini memang membuat diri saya berubah, tapi saya yakin perubahan ini ke arah yang baik. Kalaupun ada pihak yang tidak menyenanginya, tak mengapa.
Memang kita tidak akan pernah bisa membuat semua orang bahagia.
Yang penting saya merasa bahagia dengan pekerjaan kecil saya. Setapak demi setapak saya bakal melangkah, rasanya memang masih sulit seolah kaki saya dibebani logam berat.
Tapi saya yakin, saya bisa bertahan dan terus berjuang.
Saya tidak akan goyah hanya karena diejek, disindir atau diberi tatapan aneh.
Bukan saya menuduh mereka iri ke saya, mungkin mereka punya alasan khusus yang tak akan pernah bisa saya pahami seumur hidup. Begitupun saya tak ingin tahu alasan itu. Saya merasa tak perlu melarutkan diri ke sana, tak ada gunanya.
Biarlah orang lain berbicara sesuka mereka, saya akan tetap berusaha melaju, belajar dan bekerja sebaik mungkin, berusaha membangun hidup saya di sini berfondasikan pekerjaan kecil saya.
Siapa tahu, sesuatu yang kecil bisa membawa saya ke rezeki yang besar.

Happy New Year 2013!