Friday, 4 January 2013

2012 to 2013: Being me lately

Senangnya bisa menulis lagi!

'Sup everyone? *gaya Sheldon Cooper*
Kali ini saya cuma mau rangkum kejadian-kejadian yang melintas di hidup saya di peralihan tahun 2012 ke 2013. Seperti biasa malas basa-basi soal resolusi :D

- Saya sudah lulus Probezeit, alias Probation alias masa percobaan kerja 3 bulan :D Ga bisa dibilang, rasanya senang banget!
Udah lama rasanya saya menunggu keputusan ini, begitu diumumkan rasanya hampir ga percaya. Kontrak yang tadinya cuma 40% meningkat jadi 60% mulai Januari 2013.
Tahun 2013 sudah diawali dengan hal menggembirakan.
Jadwal kerja saya bakalan lebh teratur dibandingkan 4 bulan lalu. Hal positif dari faktor ini adalah saya bakalan lebih bisa atur jadwal saya, lebih bisa 'bernafas' bahkan bisa berjumpa dan ngopi bareng teman-teman saya. Hal negatifnya adalah saya bakalan sering 'rindu' akan gaji saya, hasil bekerja 100%. Begitupun, harus tetap dijalani dengan semangat.
Lebih banyak tanggung jawab dan pekerjaan juga makin kompleks.
Senang rasanya!

- New Camera!
Akhirnya setelah bertabah diri buat melihat kondisi kamera Casio bulukan saya, di bulan Desember saya putuskan buat membeli kamera baru.
Tadinya sempat bingung dan tetap mau beli kamera slim yang bisa gampang digenggam. Tapi setelah bersemedi dan melakukan pencerahan diri, saya putuskan buat beli: Nikon J1.
Yup, sebuah kamera yang sama sekali tidak 'tipis', baik itu dalam ukuran maupun dalam hal harga :-(
Tapi (lagi-lagi) si pacar malah membelikan saya kamera itu, buat hadiah natal katanya. Walaupun saya tidak merayakan tapi tetap dapat 'jatah' hadiah :-)

Pastinya saya girang banget! Sebenarnya sudah lama saya demen dengan kamera ini tapi karena tahu diri kalau saya tidak ada bakat fotografi jadi keinginan ini saya pendam. Begitupun semangat untuk punya kamera kualitas lumayan tetap ada di dalam hati, walau nyala semangatnya diredam *mungkin keadaan ini sama persis seperti ibu-ibu yang punya kompor merk 'Hock' dan berusaha mengecilkan nyala sumbu api dengan memutar kenop sumbu berbentuk bulat ke arah kiri* :D

P.S.: makasih, sang pacar!

- Natal dan Tahun Baru
Kali ini Natal cuma dilewatkan di sekitaran Zurich saja. Adik si pacar datang bersama anaknya, kami makan malam dengan fondue chinois.
Suasana sederhana saja.
Saat itu saya memang setengah hati buat bernatalan, gak tahu kenapa. Mungkin waktu itu saya sedang PMS :D terlepas dari itu, kondisi saya drop.
Demam, batuk dan pilek tiba-tiba cinta mendadak ke saya.
Susah lepas dan bikin saya makin pusing.
Begitupun saya tetap semangat membuka hadiah *disabet pakai pohon natal*. Si pacar menghadiahkan novel kriminal dari Swedia, The Hypnotist dari Lars Kepler. Sedikit cerita, saat ini si pacar berada dalam 'Japan mood', dia saat ini sedang menikmati novel yang saya hadiahkan setahun lalu (!) 'Out' dari Natsuo Kirino. Awalnya dia sedikit skeptis, mungkin karena belum pernah mengetahui karya orang Jepang. Di saat ini dia sedang bersemangat membaca; sedikit terkagum, takjub sampai shock dengan plot cerita kriminal kompleks khas Natsuo Kirino. Saking terpesonanya, dia malah menghadiahi adiknya novel Haruki Murakami :o)

Natalan juga diadakan dari kantor saya. Berhubung masih perusahaan kecil, jadi tradisi masih melekat yaitu membawa pasangan ke acara Christmas Dinner.
Saya juga ikut-ikutan 'menyeret' si pacar ke acara ini, acaranya berlangsung cukup lama dari jam 5 sore sampai hampir jam 23:30.
Cukup meriah dan kami pulang dengan senang hati :o)

Tahun Baru juga kami lewatkan dengan sederhana. Kondisi saya belum juga pulih, kepala pusing, cairan masih juga berusaha keluar dari hidung. Tapi kami melalui tahun 2012 dengan senang hati, apalagi berhasil melewati 'kiamat 2012' dengan selamat *yaelahhh dibahas!!*



Lalu bagaimana dengan hidup saya akhir-akhir ini?
Biasa saja, dalam artian masih terus berusaha belajar banyak dan mengurusi hal yang belum selesai.
Banyak hal yang harus saya pelajari, tentang hidup di perantauan, tentang berusaha mandiri, tentang mengatur finansial, tentang hubungan saya dengan si pacar, tentang berkeluarga dan pastinya tentang pekerjaan saya.

Mungkin karena keterbatasan waktu saya belum sempat bercerita tentang saya, pekerjaan dan lingkungan sekitar saya dalam konteks pekerjaan ini.
Saya berterima kasih dan bersyukur mendapat pekerjaan ini di saat yang benar-benar tepat. Saya juga sadar bahwa saya masih 'anak bawang' di kantor -dalam hal umur dan pengalaman- tapi itu bukan saya jadikan penghalang, justru harus jadi pacuan untuk lebih maju.
Saya juga sadar, banyak orang yang meremehkan kemampuan saya. Tidak perlu dibilang siapa, namun saya bisa menangkap tatapan 'masa-iya-lo-bisa-dapat-pekerjaan-kayak-begini?' dari beberapa pihak. Biasanya saya cuma senyum saja.
Bukan hanya tatapan yang saya peroleh, tapi juga kadang sindiran dan ejekan.
Tidak begitu jelas kenapa, mungkin karena saat ini saya berusaha fokus ke pekerjaan jadi perhatian saya teralih dari hal lain.
Fokus ke suatu hal memang bisa menimbulkan dampak bahwa saya dicap 'sombong', 'sok sibuk', 'sok profesional' atau bahkan 'sok kantoran' dari berbagai pihak.

Saya tidak marah, apalagi membalas sindiran tersebut.
Menurut saya, saya cuma melakukan hal yang memang sepatutnya saya lakukan: menyenangi pekerjaan saya juga berusaha belajar dan bekerja sebaiknya.
Alasan yang bisa saya kemukakan tentang hal 'sombong' karena waktu saya berkurang drastis untuk bepergian, bertandang bahkan sekedar mengopi bersama teman karena memang saya tidak sempat. Jadwal bekerja saya memang masih carut marut, risiko pekerjaan yang saya dapat ini memang menuntut fleksibilitas. Saya harus bisa stand by bekerja dan itu saya patuhi. Otomatis hal lainlah yang terkorban. Namun saya tidak bermaksud untuk 'sombong' apalagi 'sok sibuk'.
Waktu untuk diri saya sendiri saja saya masih keteteran mengaturnya, bagaimana lagi untuk orang lain? Memang time management itu penting, tapi begitupun saya masih berusaha belajar untuk mengaturnya.

Perihal saya yang dianggap 'sok kantoran' atau 'sok profesional' itu juga saya tak mau tanggapi.
Terus terang saya kurang mengerti kenapa saya dicap begitu.
Padahal saya bukan kategori manusia yang suka umbar business card loh, kecuali terpaksa :D bahkan dengan teman saya sendiri saja saya berikan kartu saya untuk yang benar-benar saya percaya.
Kemungkinan beberapa kali saya pernah menulis status atau upload foto di facebook. Tapi kedua hal ini bukan saya lakukan tiap hari.
Saya lakukan sesekali saja.
Saya bukan orang kurang kerjaan yang bahkan di saat meeting juga sempat ketik ketik status sambil mengomentari meeting tersebut. Saya tidak segila itu.
Saya juga otomatis jarang mengecek email pribadi saya, email yang saya pakai sekarang memang corporate email.
Bukannya saya mau 'sok keren', tapi ada alasan di balik itu.
Si atasan saya sering sekali mondar mandir keliling kantor. Masa iya saya yang anak baru malah 'petentengan' sibuk cek email pribadi di kantor. Bukannya dilarang, tapi saya sadar diri dan berusaha jaga sikap di kantor. Sekali lagi bukan karena mau 'sok keren' tapi rasanya tidak lucu saja kalau atasan saya menangkap basah saya cek email pribadi, bisa-bisa saya dianggap cuma mau browsing internet saja di kantor.
Mungkin hal ini yang disalahartikan orang lain. Entahlah, saya memilih diam.
Toh mereka juga tidak tahu bagaimana keadaan saya sebenarnya di kantor.


Barangkali ada yang merasa saya 'sombong', 'sok profesional' atau 'sok kantoran' hanya berdasarkan hal tersebut? Bisa saja.
Kenapa tidak?
Pekerjaan ini saya dapat dengan usaha saya sendiri, tanpa koneksi, tanpa nepotisme, murni hasil otak saya sendiri yang tengah malam berulang kali mikir untuk menekan tombol send saat mengirimkan aplikasi lamaran saya ke perusahaan reasuransi ini.
Sudah pasti saya bahagia salah satu keinginan dan mimpi saya tercapai untuk bisa bekerja di Swiss. Apalagi pekerjaannya termasuk lumayan, menurut standard saya (kalau menurut standard orang lain bisa saja ini masih pekerjaan hina dan standard gajinya juga mungkin jauh lebih rendah di mata mereka).

Tapi menurut saya ini adalah rezeki nomplok, durian runtuh, atau apalah namanya saya juga sudah banyak lupa pribahasa. Yang namanya rezeki, akan saya usahakan untuk tetap bertahan memilikinya. Menurut saya, wajar juga saya merasa excited akan hal baru ini. Pada saat jatuh cinta seseorang juga akan bereaksi sama; rasa semangat berkobar, semua hal jadi mungkin, hal lain bisa sedikit terlupakan karena pada saat itu titik fokus di kehidupan bergeser, dan akan terus melafalkan nama kekasihnya walau orang lain tak peduli dan menganggap itu bodoh.

Saya juga begitu,walaupun saya bukan dalam suasana jatuh cinta.
Pekerjaan ini adalah hal penting di hidup saya, tiang dan fondasi saya untuk hidup mandiri di Swiss. Apapun kata orang lain, saya tidak akan peduli.
Pastinya saya sedikit sedih diejek seperti itu.
Apakah hidup mereka sudah sama dengan kata sempurna? Pastinya tidak, karena tidak ada sebuah kesempurnaan. Tapi mengapa tega mengejek dan menyindir saya begitu? Padahal saya sudah diam saja, saya tidak berkomentar. Saya memilih diam, karena merasa tidak perlu mencemplungkan diri ke tingkat 'saling ejek dan sindir'.
Untuk apa?
Lebih baik saya fokus dan mengalihkan energi negatif dan kesedihan ke arah yang positif. Lebih baik saya mengerjakan hal lain, lebih baik memikirkan hal lain.
Pastinya lebih berguna.
Mungkin mereka sedang marah ke suatu hal, jadi saya yang dijadikan sasaran.
Mungkin juga marah ke saya, yah kalau alasannya begini saya minta maaf.
Sekali lagi, saya tidak bermaksud 'sombong', 'sok sibuk', 'sok kantoran' seperti yang dikira mereka.
Sama sekali tidak.

Pekerjaan saya mungkin suat hal remeh dan kecil untuk orang lain, tapi untuk saya ini adalah titik tolak hidup saya -atau bahasa kerennya turning point, gitu yah nulisnya? :D -
Gaji saya mungkin tidak seberapa, tapi saya cukup bangga karena dengan gaji sedikit itu saya bisa belajar menghidupi diri sendiri, belajar berdiri dengan kaki sendiri. Mungkin ada yang mengatakan bahwa saya telat dalam hal belajar mandiri, tak apalah. Lebih baik telat tapi saya bisa benar-benar menghargai hidup dan hasil jerih payah saya.
Toh telat juga bukan berarti saya gagal mutlak.

Turning point ini memang membuat diri saya berubah, tapi saya yakin perubahan ini ke arah yang baik. Kalaupun ada pihak yang tidak menyenanginya, tak mengapa.
Memang kita tidak akan pernah bisa membuat semua orang bahagia.
Yang penting saya merasa bahagia dengan pekerjaan kecil saya. Setapak demi setapak saya bakal melangkah, rasanya memang masih sulit seolah kaki saya dibebani logam berat.
Tapi saya yakin, saya bisa bertahan dan terus berjuang.
Saya tidak akan goyah hanya karena diejek, disindir atau diberi tatapan aneh.
Bukan saya menuduh mereka iri ke saya, mungkin mereka punya alasan khusus yang tak akan pernah bisa saya pahami seumur hidup. Begitupun saya tak ingin tahu alasan itu. Saya merasa tak perlu melarutkan diri ke sana, tak ada gunanya.
Biarlah orang lain berbicara sesuka mereka, saya akan tetap berusaha melaju, belajar dan bekerja sebaik mungkin, berusaha membangun hidup saya di sini berfondasikan pekerjaan kecil saya.
Siapa tahu, sesuatu yang kecil bisa membawa saya ke rezeki yang besar.

Happy New Year 2013!