Monday, 29 July 2013

PARIS, FRANCE

Udah hampir tengah malam.
Adalah waktu tepat untuk nyari wangsit sambil nulis blog.
Kali ini aku pengen nyeritain soal liburan di Perancis.
Bagaimanapun aku pingin update blog, menuliskan setiap pengalamanku di negara yang (katanya) paling romantis sedunia. Benarkah begitu?
Mari kita bahas bersama.

Note: Selama di Perancis aku mengunjungi tiga kota; Paris, Bordeaux dan Marseille. Jadi bakalan ada tiga tulisan untuk masing-masing kota. Tentu saja berdasarkan urutan tanggal. Selain itu aku bakalan menulis posting khusus tentang kuliner selama di sana.
Dan sekarang mari kita bertualang ke Paris!

Day 1:

Sehari sebelum liburan aku udah excited banget, walau kalau urusan koper aku selalu bongkar pasang beberapa kali sebelum 'resmi' berlibur. Rekan kerja di kantor udah heboh aja nanyain kemana aku liburan, terutama yang pernah tinggal di Perancis. Mendengar cerita mereka rasanya makin ga sabar untuk menginjakkan kaki di negara Perancis.

Besoknya aku berangkat bareng si pacar ke stasiun utama di Zurich. Jam 7 pagi kami berdua udah nangkring di café dengan khusyuk, antara mengamati croissant dan menyeruput minuman panas. Ramalan cuaca di Paris memang ga bakalan cerah, jadi udah bersiap mental untuk sakit hati kalau tiba-tiba dingin menyerang.

Kereta TGV pun berangkat dari main station Zurich.
Sungguh bukan maksud hati mau sombong, tapi kalau kamu udah terbiasa menaiki kereta di Swiss terus tiba-tiba naik TGV yang ga bisa dibilang nyaman, perjalanan selama 4 jam juga ga begitu asik. Hal penting yang untungnya ga aku lupa selama liburan adalah: bawa buku!
Total selama liburan kali ini aku baca dua novel. Ga apa-apa berat dikit asal hati senang dan ga perlu uring-uringan selama di TGV.
Kami sampai di Paris tepat waktu sekitar tengah hari. Sedikit muter-muter di stasiun pas nyari hotel. Untungnya ga terlau rumit. Dengan ga terlalu mengharap akan hotel mewah, secara di Paris harga hotel membumbung tingginya, kami sampai di hotel. Tapi tetap aja sedikit 'takjub' ngelihat ukuran kamar yang mini (ga tega mau nulis 'terlalu kecil'). Tanpa banyak protes kami langsung nyari restoran untuk makan siang. Ga jauh dari hotel ada restoran kecil dan jadilah kami makan dengan lahap di sana.

Kelar makan, si pacar dan aku memulai petualangan kami.
Walau cuaca ga terlalu mendukung, tapi aku udah siap sedia dengan kamera. Pokoknya mendung dan angin ga bakal menyurutkan suasana liburan!



Sacré-Cœur

Kunjungan pertama yaitu: Sacré-Cœur
Gereja yang mulai dibangun dari tahun 1875 hingga akhirnya selesai tahun 1914 ini memang selalu jadi salah satu objek wisata di Paris. Selain itu dari ketinggian gereja ini para pengunjung juga bisa menikmati pemandangan kota Paris. 
Yang ngeselin di sana adalah banyak gerombolan anak muda (baca: setengah preman) yang entah ngapain pada nongkrong di situ. Kehadiran mereka sumpah bikin suasana ga enak, kadang malah menjurus untuk mengganggu turis dengan nanya hal ga penting atau sedikit maksa. Untungnya aku ga ada ditanyain mereka. Tapi hal itu tentu aja ga bisa mengubah budaya yang udah lekat: berfoto! :D
Puas berfoto, kami mampir ke salah satu toko coklat. Sayang aku lupa namanya, pikiran masih juga di Zurich jadi belum ngeh dengan keadaan di Paris.



Lucunya salah satu pemandangan di Paris yang kujumpai di sekitar gereja adalah toko yang menjual baju dengan harga ramah di kantong para imigran. Toko itu penuh dengan barang dagangan berupa pakaian, saking penuhnya cuma bisa ditumpuk sampai manjatin dinding di bakul baju. Benar-benar bertolak belakang dengan image Paris yang dikenal dengan kota mode. Ini adalah salah satu hal yang kusenangi dari travelling, bisa tahu sisi lain dari tempat tersebut. Paris bukan cuma mode, catwalk, menara Eiffel plus pasangan sibuk berciuman. Tapi lebih dari itu ada sisi lain yang bisa dikenal. Walau itu belum tentu indah dipandang :-)


Paris, the city of fashion...

Perjalanan kami lanjutkan ke arah: Moulin Rouge.
Kabaret ini gak terlalu jauh dari Sacré-Cœur, terletak di distrik Pigalle yang terkenal dengan deretan hiburan seksnya. Si pacar bercanda: Habis berdoa di gereja, langsung ke Moulin Rouge :D
Bangunan dimana Moulin Rouge berada ga begitu strategis untuk dipotret. Sebagai turis plus tukang foto amatiran aku kesulitan memotret dengan angle yang bagus. *dohh bahasanya..* Alhasil cuma foto seadanya.



Kami balik ke hotel dengan sedikit kedinginan, terutama aku yang cuma bawa jaket yang ga terlalu tebal ala kadarnya. 
Tapi koperku juga ga terlalu besar jadi mau bawa mantel udah makan tempat banyak, terpaksa harus nahan dingin dikit deh.
Malamnya si pacar ngajak makan malam di restoran Ze Kitchen Galerie. 
Restoran ini menyajikan campuran dari barat dan timur. Malam itu kami makan sampai kenyang! :o)

 Day 2

Setelah tepar semalamnya, hari ini petualangan dilanjutkan.
Dengan semangat aku bangun pagi, bukan untuk antri beras miskin tapi buat mengantri di Museum Louvre. Jam 8 pagi kami udah nangkring buat sarapan di salah satu kafe di dekat Opera. Walau cuma sarapan seadanya tapi senang bisa nikmati croissant yang enak banget di Perancis. Croissant di Swiss memang ga seenak di Perancis. 


Finding Maria Magdalena

Watchout pickpocket!

Sekitar jam 08:30 kami udah memasuki kawasan Musée du Louvre. Para pengunjung udah berbaris rapi dan tentu saja barisan itu disuguhi pemandangan indah dari tanda peringatan hati-hati terhadap copet. Suasana masih lengang jadi kami putusin buat berfoto dan setelahnya cepat ambil posisi sebelum antrian tambah panjang. Lima menit sebelum buka antrian udah puanjanggg aja. 

Pukul 09:00 teng pintu dibuka dan para personel sekuriti siap siaga.
Seperti para turis Asia lain yang berbondong-bondong di sana, hal pertama yang kami buruan pengen lihat udah tentu lukisan Monalisa. 
Yeah, pemikiran kami emang ga jauh beda dengan plot film komedi romantis Hollywood, alias gampang ditebak.
Untungnya karena baru buka jadi ga terlalu susah buat memotret The Lady ini. Paling tinggal senggol dan dorong turis Korea dan Cina yang udah sibuk berpose dengan gaya andalan yaitu peace sign.




Les Noces de Cana - Paolo Caliari

Perjalanan ke Perancis ini juga sebenarnya buat merayakan dua tahun kebersamaan kami berdua.
Aku udah nyiapin kejutan kecil buat si pacar yaitu hadiah berupa kacamata yang dia pengen beli. Berhubung aku ga sempat bikin persiapan besar, jadi milih moment yang tepat buat ngasi hadiahnya. Musée du Louvre pun terpilih sebagai tempat yang pas untuk menyerahkan hadiah. 
Dengan niat ingin menyaingi adegan film atau video klip, aku nunggu buat nyerahin hadiah dengan sedikit ga sabar. Sempat takut si pacar bakal ga sengaja buka tasku untuk nyari kunci atau ngambil dompet yang biasa dia titipin di tas. Untungnya dia ga tahu.
Kejutan pun sukses disajikan :o)

Cuaca memang sama sekali ga berpihak ke kami selama di Paris.
Keluar dari Louvre, udara mendung dan udah hampir hujan. Rencananya kami mau ke pusat perbelanjaan La Fayette. Stasiun metro ga jauh lagi tapi berhubung hujan deras terpaksa kami harus berteduh sebentar. Jalan ke arah stasiun ditutup karena ada photo shooting bagi para model. 
Seharusnya ini jadi pemandangan menyenangkan dimana saat hujan hampir reda mata disuguhi para model ganteng keren berbadan tinggi. Tapi entah kenapa hal itu malah bikin aku kesal. Bukan karena aku sedang bersama si pacar tapi hujan waktu itu benar-benar mengesalkan, jalan ke stasiun ditutup dan terpaksa harus memutar sedikit. Siapapun itu walau mereka para model keren tetap aja rasanya udah merusak suasana liburan :-(

Sesampai di La Fayette si pacar berbaik hati membelikan aku sepasang flat shoes. Yeay! Senangnya...
Udah bisa ditebak kalau aku ga beli apa-apa di sana. Selain karena aku udah dapat hadiah sepatu, belanja juga kurang nyaman karena semua tempat dipadati turis (terutama dari Asia) yang mengantri di toko dan counter seperti Louis Vuitton, Furla, Longchamp dsb. Berhubung aku ga ada niat mau belanja besar-besaran (baca: bokek) jadi cuma mengitari La Fayette aja. Lagian dana juga udah dialokasikan untuk keperluan lain yaitu perjalanan ke Bordeaux dan Marseille yang akan dijalani. 

Keluar dari La Fayette kami makan di salah satu restoran ga jauh dari situ. 
Restoran ini sangat tidak direkomendasikan. Berhubung cuaca hujan deras jadi kami juga ga bisa mencari tempat dalam waktu singkat sementara perut udah keroncongan. Terpaksa restoran ini jadi tersinggahi. Rasa bebek yang kupesan sangat absurd, pesanan si pacar juga sama anehnya. Kami pun berjanji ga bakalan mau balik ke restoran ini lagi. 

Pergi ke Paris belum afdol kalau belum mengunjungi Eiffel Tower.
Karena itu walau kaki ini rasanya mo patah kami masih juga berjuang di hujan gerimis demi satu menara yang didesain oleh Maurice Koechlin dan Émile Nouguier ini. Rombongan turis berduyun-duyung menuju La Tour Eiffel dan para pedagang juga ga mau kalah unjuk kebolehan menjual dagangannya:
"Three keychains for 1 Euro!"
Itulah kalimat sakti mereka, menjual mimpi tentang Eiffel sambil mengharap para turis sama sekali ga mengetahui kalau gantungan kunci itu diproduksi di China. Hal ini sedikit menyebalkan karena para penjual itu kadang bersikap kasar. Jadi mending jauh-jauh aja kalau memang ga mau berurusan dengan mereka yang ga ragu untuk mengikuti kita terus.



Okay okay, everyone know what it is...

Kunjungan ke Eiffel Tower cuma sebentar, dalam perjalanan ke stasiun metro kami berhenti sebentar untuk minum kopi. Selama di Perancis aku cukup susah menyesuaikan diri untuk bisa memesan kopi agar bisa dimengerti masyarakat Perancis. Mereka ngerti kalau kita memesan cappuccino, tapi ga mengerti kalau kita memesan latte macchiato. Ga tahu apa memang mereka ga menegerti atau pura-pura ga tahu, mengingat bagaimana orang Perancis mungkin alasan kedua itu benar.

Sebelum makan malam kami menyempatkan diri buat melihat-lihat daerah sekitar hotel yang belum sempat terjelajahi. Ternyata ga jauh dari situ banyak hal-hal lucu dan unik; gas station yang keberadaannya tepat di trotoar jalan, graffiti di sana sini juga toko-toko kecil menarik.


Funny sign :o)

One of the building with graffiti

Malamnya kami makan di Le Grand Café Capucines.
Suasana di sini lumayan enak, sepertinya selalu ramai pengunjung. Kami menikmati makanan dan tentu saja nikmati wine sambil merayakan dua tahun kebersamaan :-)

Day 3

Hari ini perjalanan akan dilanjutkan ke Bordeaux. Sebelum ke Bordeaux si pacar mengajakku pergi jalan-jalan sebentar. Tujuannya adalah: Bourse de Paris atau Paris Stock Exchange.
Naik metro sebentar setelah sempat salah rute kami akhirnya sampai di Place de la Bourse. Tadinya sempat sedikit takjub, kenapa kantor bursa efek sepi. 
Ternyata itu adalah hari Sabtu. Ya jelaslah sepi dan hampir ga ada orang.



 Bourse de Paris

Kami memutuskan untuk sarapan di sekitar kantor bursa saham. 
Untungnya perjalanan ke Paris ditutup manis dengan mengunjungi: Pain de la Bourse. Café dan restoran ini letaknya di seberang jalan dari Bourse. Benar-benar ga menyesal untuk meluangkan waktu datang ke tempat ini! Sehabis sarapan kami balik ke hotel untuk check out.  

Kesanku selama di Paris; senang karena bisa membuktikan bahwa Paris tidak seromantis yang orang bayangkan, steriotip ini mungkin bakalan bergeser mengingat banyaknya gelandangan yang tidur di jalanan. Begitupun bukan berarti kota ini tidak cantik. Tapi penilaian ini hanya dibuat berdasarkan 3 hari kunjungan, dalam cuaca buruk pula! Semoga saja ada kesempatan di masa datang untuk mengunjungi kota ini lagi.

Perjalanan ke Bordeaux sudah menanti!

Tuesday, 16 July 2013

Shoes Fever

Baca judul di atas udah bisa ditebak isinya apa *ga kreatif*.
Udah masuk tengah tahun yang berarti: SALE!!!
Di pusat kota hampir setiap toko digantungi atau ditempeli warna meriah, terutama warna merah. Buatku yang berkantong pas-pasan gini, hal ini adalah cobaan berat.

Gimana nggak, rute naik tram dari tempatku tinggal ke kantor harus melewati Bahnhofstrasse yang merupakan pusat perbelanjaan di Zurich.
Pengen nutup mata, tapi takut malah ketiduran dan lupa turun.
Kalau ga nutup mata, ntar malah jadi mataku serasa didzolimi oleh barang-barang yang pake tag merah terang bertuliskan 50%, 70%. Sayang ga ada bertuliskan 100% atau 'Monggo dibawa pulang' dan semacamnya.

Terus, belanja nggak di musim sale?
Ya iyalah! :D
Kali ini aku belanja sepatu.
Bermula dari beli sepatu wedges warna hitam yang tak lain sebagai successor buat sepatu wedges ungu pucatku. Sebenarnya masih suka banget makai sepatu ungu tadi, tapi warnanya udah ga layak tayang lagi :-(*sinetron kali*


I love wedges!

Selang kira-kira seminggu sesudahnya, aku malah jadi belanja sepatu lain. Berhubung sepatu buat ngantor udah bulukan (dan sekarang dijadiin sepatu pas cuaca hujan), tanpa sengaja aku nemu sepatu Kennel & Schmenger yang sale 70%! Dari dulu pengen beli sepatu sejenis ini tapi diskonnya cuma dikit *ketauan bokeknya*. Akhirnya kesampaian juga beli sepatu kerja baru.

 Tough but still need time to get use to wear them...

Berhubung aku udah lama ga punya sandal terbuka, ngelihat sale jadi pingin beli.
Alhasil, sewaktu jam makan siang sekalian beli perlengkapan kantor, kaki juga menyinggahi toko sepatu. Sandal terbuka yang lumayan tinggi ini cuma berani aku pake di kantor. Bukan cuma karena di kantor semua lantai dilapisi karpet yang bikin ga susah jalan, tapi juga karena udah lama ga makai hak tinggi jadi harus latihan jalan lagi :D

They are staying at office :-)

Sepasang sepatu lain yaitu flat shoes.
Alasannya karena sepatu balerina udah bulukan dan ga ada jalan lain buat bisa jalan enak sewaktu liburan selain make sepatu bersol datar. 


My favourite flat shoes (until now..)

Satu lagi sepatuku yang bentuknya lain dari lainnya.
Modelnya lain karena ada bling chains :-) Sayangnya sepatu ini ga bisa aku pake sering soalnya kurang nyaman dipake. Udah tau ga nyaman dipake, ngapain juga dibeli?! :D



Kalau dipikir-pikir aku jarang punya sandal.
Sandal yang aku punya cuma sandal buat dipakai di apartemen dan sandal yang jarang aku pake soalnya kalau rusak ga tau lagi mo beli dimana.
Sandal berhias scarf merah yang bisa dililit di betis ini baru aku pakai sekali pas liburan ke Perancis baru-baru ini (padahal belinya dari tahun lalu!).

The Shoes Lover

Satu jenis sepatu yang juga jarang aku punya: sneakers!
Semoga bisa beli lagi. Hampir semua orang tercengang dengar aku ga punya sneakers.
Am I that wierd?!

Btw, menyambung dari post terakhir.
Setelah bersemedi dan minum air keran, si pacar dan aku mutusin buat mencoba lagi hubungan kami yang sempat terputus (seminggu doang!). Memang, aku sempat kesal sampai langit ke tujuh.
Sampai aku nyangka dikasi mukjizat ma Tuhan karena tiba-tiba ada buraq yang bawa aku ke langit ke tujuh. Rupanya nggak. Ternyata karena kesal ma tingkah si pacar. Begitupun aku juga sadar kalau aku juga pernah buat salah. Dan walaupun kadang kami bertengkar, ternyata kami memang saling cinta. 
Well, second chance isn't that bad at all.
Okay, sekarang semuanya boleh muntah.

Tulisan ini udah lama pengen aku publish tapi sekali lagi kesibukan akhir-akhir ini bikin tepar! Aku rindu ngeblog!
Hopefully soon I will be able to publish about my holiday in France.

Good night, blogger!